Oleh: Taufik Sentana*
Banyak yang telah menengarai bahwa sekarang, di masa ini, merupakan fase paling runcing tentang pergereseran nilai antargenerasi. Katakanlah, kaum tua dan muda. Orangtua dan anak. Dan lingkungan luas terhadap anak. Jadi, kata “generasi” kita maksudkan sebagai anak dan anak muda/pemuda. Yang secara perkembangan akan mencapai puncaknya di tahun 2035.
Apa yang telah kita/pemerintah siapkan secara strategis untuk sampai pada tahun emas tersebut? Apakah cukup dengan kuota gratis dan kartu pra kerja atau program taktis lainnya?
Tentu mencapainya tidak semata dengan persiapan akademik-kognitif. Sebab akal pun bisa kering tanpa asupan rasa dan sentuhan nurani.Pun demikian dengan lingkungan, yang menuntut kemandirian dan keterampilan serta sinergi dan daya saing.
Yang paling umum dikhawatirkan dari kehidupan pemuda modern adalah, tercerabutnya nilai nilai sentral dalam kehidupan sosial mereka. Nilai sentral berupa keyakinan, keimanan dan pengamalan luhur ajaran Islam. Lalu asyik dalam balutan budaya global, pikiran bebas dan pergaulan bebas.
Banyak faktor yang memicu pergeseran di atas, tidak hanya karena dorongan lingkungan/gaya hidup yang berat, tapi karena minimnya persiapan yang kita lakukan dengan serius (tanpa kebijakan yang tumpang tindih dan terus berkelanjutan). Baik di keluarga ataupun di sekolah sekolah. Bisa jadi persiapan kita hanya sebatas “pengetahuan dan life skill”, tanpa ada gairah menjadi produktif, melayani dan mentradisikan nilai nilai utama di masyarakat muslim setempat lalu menjadi rahmatan Lil alamin.
Tanpa ini, mungkin kita hanya menyiapkan generasi yang terputus: semoga tidak.[]
*Praktisi pendidikan Islam. Menetap di Aceh Barat



