PEMERINTAH Hungaria di bawah pimpinan Perdana Menteri Viktor Orban mengesahkan undang-undang yang mengkriminalisasi dukungan bagi para pencari suaka pada bulan Juni lalu. Undang-undang yang bersifat antimigran itu menyatakan, siapapun yang memfasilitasi imigrasi ilegal dapat menghadapi penjara.

Undang-undang itu dijuluki Undang-undang Stop Soros. Selama ini pengusaha berdarah Hungaria-Amerika George Soros dituding selalu mendukung para migran Muslim membanjiri Eropa oleh Pemerintahan Viktor Orban.

George Soros adalah salah satu investor keuangan paling terkenal di dunia sekaligus seorang filantropis. Pada puncak krisis pengungsi Eropa, Soros menjanjikan dukungan besar untuk kelompok bantuan yang mendukung para migran.

Soros dikenal membiayai banyak berbagai organisasi internasional yang memberikan bantuan bagi imigran dan pencari suaka. Viktor Orban sangat tak suka dengan langkah yang diambil oleh Soros tersebut.

Di bawah undang-undang antimigran tersebut siapapun dapat dipenjara karena bekerja untuk atau dengan organisasi nonpemerintah yang terlibat dalam membantu atau berkampanye untuk pencari suaka. Akibatnya para aktivis yang membantu migran bisa dipenjara karena undang-undang tersebut.

Kelompok hak asasi manusia bersikeras, semua yang mereka coba lakukan adalah membantu orang yang telah memasuki Hungaria untuk mengajukan permohonan suaka secara hukum
 dan legal.
Undang-undang antimigran itu juga juga memperketat pembatasan suaka, sehingga siapa pun yang mencoba masuk ke Hungaria dari negara ketiga yang diancam dengan penganiayaan tidak dapat menuntut perlindungan.

Sekitar 400 ribu orang melakukan perjalanan melalui Hungaria di tengah krisis migran tahun 2015 dalam perjalanan mereka ke Eropa Barat. Pada 2015, dari 177 ribu orang mencari suaka di Hungaria tetapi hanya beberapa ratus yang diterima. Tahun lalu, jumlah klaim suaka turun menjadi sekitar 3200.[]

Sumber: Jawapos