Oleh Taufik Sentana*
Tidak diragukan lagi bahwa Alquran merupakan landasan utama dalam melakoni kehidupan di muka bumi. Tidak ada satu kitabpun sejak (ataupun sebelum) kenabian Muhammad SAW yang dapat menandingi kualitas Alquran: walau seluruh jin dan manusia berpadu untuk menandinginya.
Ada sebagian kaum terpelajar yang mencoba mendekati Alquran dengan logika semata dan membedahnya kembali dalam konteks kekinian dengan “mata pisau” (pandangan ilmiah Barat, termasuk Eropa) yang “trauma dengan ajaran Injilnya”. “Trauma keilmuan inilah yang kemudian saya asumsikan menjadi landasan studi dalam banyak cabang keilmuan yang dipraktikkan oleh banyak intetelektual muslim saat mereka pulang” ke masyarakatnya.
Memang Alquran bukanlah kitab aplikasi teknis untuk beragam problem individu dan kemasyarakatan, tetapi Alquran menggambarkan panduan umum seraya membiarkan manusia mengeksplorasi daya akal dan nuraninya selama tak bertentangan dengan rambu syariat. Perhatian Alquran terhadap hal-hal yang umum ini sebagai penanda bahwa Alquran ingin mengajak audiensnya (al-mukhathab), ke visi yang lebih tinggi, lebih bermakna dan lebih abadi.
Jadi, walaupun ada beberapa ayat Alquran yang mengisyaratkan pentingnya inovasi dan kreativitas, tetapi fungsinya mestilah bermuara pada rasa ketuhanan dan transendental.
Itulah di antara maksud kalimat Allah “Iqra' bismi Rabbik….” Apapun aktivitas dan capaian kita secara individu atau komunitas hendaknya berpulang ke Allah juga.
Sebagian kita telah menikmati masa libur Idul-qurban beberapa hari lamanya, sambil bersilaturahim atau berktivitas bersama keluarga tercinta. Kini saatnya masing- masing akan kembali disibukkan dengan salah satu tugas kemanusiaan kita, yaitu bekerja: bekerja dalam arti menyelesaikan seluruh tanggung jawab personal kita, guna memberdayakan hidup dan menopang kehidupan itu sendiri.
“Bila telah selesai ibadah ritualmu (shalat, haji dan ibadah mahdhah lainnya) maka bertebarlah kamu di bumi Allah untuk mencari keutamaan dari-Nya” demikian Alquran mempersepsi aktivitas kita selepas ibadah.
Berikut ini penulis nukilkan juga bagaimana Alquran membangun visi kita dalam bekerja atau beramal mengisi hidup:
1. Saat kita bekerja, Allah dan Rasul serta orang-orang mukmin sedang memerhatikan dan menilai kita (Attaubah, 105). Keterangan ini menjadi pedoman bahwa aktivitas kita sangat berdampak bagi lingkungan sekitar dan benar-benar akan dicatat dalam timbangan Allah.
2. Jaminan petunjuk dan bimbingan Allah
(ide kreatif dan solusi) bagi yang bekerja dan beramal karena dorongan iman. Sehingga Allah menyiapkan ganjaran tinggi dan berharga dalam surga-Nya. (Yunus, 9)
Ini menjadi pendorong bagi kita bahwa dalam bekerja kita mesti membayangkan realitas keabadian yang bakal kita tuju. Sungguh ini merupakan sikap pekerja yang visioner.
3. Tidak ada amalan dan pekerjaan yang sia-sia selama ada ruh iman dan visi yang besar di dalamnya. Apalagi, amalan tersebut dilakukan dengan penuh ihsan dan itqan (integritas diri dan profesional), sehingga berdampak bagi kebaikan umum, sebagaimana tersurat dalam Alkahfi ayat 30.
4. Amal pamungkas dan penyempurna kontribusi kita dalam skala individu dan sosial adalah sebagaimana termaktub dalam surah Al'ashri, 1-3.
Dari surah yang masyhur tersebut kita bisa mendapatkan konsep utuh tentang makna menjalani hidup dan apa arti sukses, yaitu: iman dan amal saleh, saling berwasiat dalam kebenaran (dengan mendalami ilmu, dsb.), dan dalam kesabaran (dengan kesempurnaan akhlak). Ini pula yang menjadi fondasi inti pendidikan Alquran bagi kaum beriman (Muhammad Fadhil Aljamali, 1995)
5. Amal saleh dan aktivitas kebaikan kita menjadi medium untuk bertemu dengan Rabb yang Maha Tinggi, dengan syarat tiada sedikitpun unsur isyrak: sirik, ria dan kesombongan di dalamnya (Alkahfi, 110)
Demikianlah beberapa potong nukilan ayat-ayat Alquran yang dapat kita jadikan landasan visi dalam bekerja ataupun beramal dalam keseharian guna memaksimalkan potensi diri dan perbaikan sosial (baca Filsafat Pendidikan dalam Quran, Pustaka Kautsar, 1995, yang diulas oleh Muhammad Fadhil Aljamali, untuk jabaran yang lebih utuh).
Selamat bekerja, semoga beroleh berkah dari Allah.[]
*Taufik Sentana,
Staf Ikatan Da'i Indonesia (IKADI) Aceh Barat.
Menyelesaikan pendidikan pesantren di Darul Arafah Medan (1996), pernah mengabdi di Dayah Misbahul Ulum Paloh dan mengikuti program S1 di STAI Malikussaleh (hingga 2003). Kini mengajar di MTs Harapan Bangsa dan menjadi anggota Tim Mutu untuk Yayasan Almaghribi Meulaboh.





