BANDA ACEH – Kelompok bersenjata yang baru menandatangani perjanjian gencatan senjata nasional (National Ceasefire Agreement) Myanmar, mengunjungi Ruang Memorial Perdamaian Bakesbangpol dan Linmas Aceh di Kuta Alam, Banda Aceh, Jum’at, 19 Februari 2016, . 

Rombongan yang berjumlah 17 orang tersebut terdiri 15 pejabat tinggi  dan sayap militer kelompok Karen yang dipimpin langsung oleh Jenderal Isaac Po didampingi oleh 3 perwakilan International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS). Kehadiran mereka di Ruang Memorial Perdamaian yang dikelola oleh Bidang Politik Pemerintahan dan Keamanan untuk melakukan studi banding tentang proses perdamaian dan pembangunan paska konflik selama sepuluh tahun terakhir.

“Kunjungan rombongan dari Myanmar ini sangat relevan dengan inisiatif pengembangan dan inovasi yang dilakukan pihaknya melalui Ruang Memorial Perdamaian. Di Ruang Memorial ini mereka mendapatkan berbagai informasi terkait program perdamaian paska konflik di Aceh, tentang sejarah konflik, MoU Helsinki, UUPA dan berbagai hal terkait perdamaian di Aceh,” kata Kepala Kesbangpol dan Linmas Aceh, Nasir Zalba, di Kantor Kesbangpol dan Linmas Aceh.

Pimpinan rombongan Jenderal Isaac Po mengaku, pihaknya sangat antusias dan  banyak mendapatkan pembelajaran serta informasi di Ruang Memorial yang menurutnyaisinya sangat tak terduga ini. 

Sementara Fahmy dari ICAIOS yang memfasilitasi kunjungan rombongan Myanmar selama di Aceh mengatakan, akan ada beberapa gelombang kunjungan yang akan dilakukan dan meminta Pihak Kesbang siap memberikan pelayanan sebagaimana yang diharapkan.

Ruang Memorial sendiri selain menjadi pusat pembelajaran perdamaian, berisi berbagai material pameran yang berisi informasi terkait berbagai sejarah konflik dan perdamaian di Aceh, diantaranya bekas senjata semasa konflik yang sudah dipotong oleh AMM (Aceh Monitoring Mission), foto-foto para tokoh korban konflik, berbagai peristiwa konflik dan berbagai dokumen semasa proses perdamaian.[](tyb)