LHOKSUKON Ibrahim, 42 tahun, warga Gampong Matang Baroe, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara yang menyandera dan merantai anak gadisnya di pohon pinang memang memiliki sifat arogan dan temperamental. Dia kerap menghunus parang setiap bermasalah dengan orang-orang di lingkungannya.
Hal itu dikatakan Geuchik Gampong Matang Baroe, Nadir, kepada portalsatu.com via telepon seluler, Minggu, 27 Maret 2016 malam. Ibrahim tidak pernah ikut serta jika ada rapat atau musyawarah desa. Meski sudah beberapa kali ditegur orang tua kampung atau perangkat desa, ia tidak pernah menggubrisnya.
Ia tidak suka bergaul, bahkan jarang keluar walaupun hanya sekedar ke musala atau warung. Untuk membeli rokok saja ia menyuruh anak-anaknya. Ia memiliki enam anak, empat perempuan dan dua lelaki, ujarnya.
Ditambahkan, perangkat desa sudah angkat tangan dengan permasalahan keluarga Ibrahim. Masalah shit sabe na, tapi aneuk mit pih na laju. Ka hana tatuoh peugah le. Ia pun cepat marah dan arogan. Ureung meunan ilhap lhap sigege. Mereka sering ribut, bahkan istrinya sering harus berlari ke sawah karena dikejar Ibrahim, baik dengan parang atau benda lainnya di tangan, ucap geuchik.
Keluarga Ibrahim tinggal terpisah dengan pemukiman warga, rumahnya harus melangkahi tanggul. Ia sudah membeli tanah yang berdekatan dengan lingkungan keluarganya. Pemerintah juga sudah memberikan rumah bantuan karena mereka masuk golongan keluarga tidak mampu.
Bukannya ditempati, rumah bantuan itu malah dirusak Ibrahim. Makanya kami sebagai perangkat desa sudah tidak peduli lagi, karena tidak tahu harus bagaimana. Dalam keseharian Ibrahim menjadi buruh tani, namun lebih sering hanya tiduran di rumah. Istrinya juga bekerja sebagai buruh tani, jelas Nadir.
Terkait kejadian Ibrahim yang merantai anaknya, geuchik mengaku mengetahui hal itu setelah dihubungi anggota kepolisian. Saya kurang tahu detail ceritanya. Sore sepulang dari sawah warga mengabari saya Ibrahim cek-cok lagi dengan istrinya. Setelah itu istrinya melapor ke Polsek Baktiya, kata Nadir.[](bna)



