Oleh Taufik Sentana*
4.0, itulah skala laju gaya kepemimpinan global yang berbasis industri digital-informasi. Bahkan secara praktik sosio-ekonomis kita masuk pada fase ekonomi informasi. Maka dalam kaitan ini, kemandirian dan kewirausahaan menjadi bagian kulikuler pendidikan secara umum.
Tantangannya adalah, dari pendekatan di atas, negara kita berada dalam tekanan ekonomi global, ketergantungan dan faktor internal lainnya. Namun, kebanjiran informasi dan media pengetahuan bisa menjadi nilai lebih bila dapat diakses sebagai sarana alternatif.
Artinya, guru dalam level-masyarakat 4.0 (menurut versi ini) benar benar berperan sebagai mediator dan fasilitator perkembangan kemajuan berbasis industri/pasar serta tergantung pada teknologi informasi/internet dan variannya.
Dalam model ini, pembelajaran kontekstual dan mastery learning menjadi relevan. Asal, kita dapat betul betul membangun sistem kurikulum prioritas sesuai jenjang dan tujuan pendidikan (juga pendidikan Islam). Karena, muatan belajar kita sangat padat, rentang waktunya pun panjang. Bayangkan, strata S1, kita baru memasuki belajar Ilmu Pengantar, studi pengantar.
Bisa jadi, guru 4.0 tidak bertumpu pada tumpukan teori, tapi lebih mengelaborasi konstruksi pengetahuan/keterampilan dan membangun studi studi kasus yang mendorong ciri berfikir kritis dan kreatif guna selaras dengan tipikal kemajuan masyarakat setempat/dunia.
Di poin ini, guru 4.0 tidak terkungkung dalam pembelajaran kelas”, pembelajaran bisa lebih terbuka dan fleksibel sesuai target satuan pendidikan. Begitu pula hubungan guru-murid-sekolah-orangtua dan masyarakat, mesti terpaut dalam sinergitas pendidikan.
Bagaimana dengan dualisme pendidikan di negara kita? Bagaimana dengan mereka yang terikat dalam basis pendidikan murni pesantren (kitab klasik Islam)? Jalan keluarnya ada pada prioritas dan realitas sosial yang dihadapi masyarakat/umat.
Prioritas: teori dan implementasi ajaran dasar keislaman dalam perspektif egaliter dan izzatuddin, plus mengkaji ayat2 kauniyah dalam kaitannya dengan perkembangan sains dan teknologi. Realitas: Lulusannya menjadi rujukan islahul ummah dan tidak GAGAP dalam skala laju teknologi, pergeseran nilai dan skill yang dibutuhkan secara sosio-ekonomi-politik.
Demikianlah sekelumit curahan pikiran tentang posisi guru di era 4.0 yang terus melaju, yang intinya menuntut setiap diri untuk mandiri dalam belajar dan kemudian terbentuk masyarakat pembelajar: masyarakat berkeadaban dan maju-lestari sebagai Rahmat bagi alam: Di posisi itulah guru berdiri dan bersinergi.[]
*Bergiat di pendidikan Islam sejak 1996
Menyusun Buku Hijrah Pendidikan. Bergabung dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Aceh Barat.




