BANDA ACEH – Guru Besar UIN Ar-Raniry, Prof. Husni Sabi, P. hd mengatakan, paham radikal merupakan sikap di luar kewajaran yang terjadi pada manusia.
“Radikal adalah sikap di luar kewajaran manusia, yang ditimbulkan oleh beberapaa sebab,” kata Husni Sabi dalam diskusi publik di Fakultas Ushuludin UIN Ar-Raniry, Jumat, 29 Januari 2016.
Husni mengatakan, paham radikal muncul dari berbagai segi, di antaranya dunia pendidikan, rumah tangga, bahasa dan institusi. “Misalnya dalam sebuah keluarga, perkataan atau nada-nada sering diucapkan. Jadi bahasa bermuara radikal. Itu jadi akar radikal. Sadar tidak sadar, itu tumbuh dalam tubuh kita, karena kita ucapkan dalm keseharian,” kata Husni.
Ia mencontohkan, di negara Arab, paham radikal menjadi tontonan yang menarik bagi mereka. Padahal secara tersirat itu semua adalah paham radikal yang dikemas dalam bentuk tontonan. “Orang Amerika buat acara gulat/perkelahian. Itu orang Arab yang tonton. Padahal, itu alibi semata, untuk mencari makan,” ujarnya.
Husni menilai ada pembodohan dan pembohongan yang terjadi selama ini yang memicu timbulnya paham radikal. Itu juga terjadi di dunia pendidikan, perpolitikan dan institusi. “Ada pembodohan dan kebohongan. Jika di pendidikan ada pembodohan, maka di politik ada kebohongan,” katanya.
Menurutnya, pembodohan sudah secara masif dan lama terjadi. Janji politik katanya, adalah salah satu bentuk sifat radikal. Tapi sayangnya, masyarakat kurang memahami itu. Seharusnya kata dia, pendidikan harus mencerdaskan. Jika sudah terjadi pembodohan, ini akan sangat berbahaya.
Namun, lanjut Husni, untuk mengatasi hal itu bisa dilakukan melalui pendidikan yang benar dan baik, serta mengkomunikasikannya dengan baik.
“Pendidikan dan komunikasi yang baiklah, yang tepat untuk menangkal (paham radikal). Ini yang penting,” katanya.
Diskusi tersebut diselenggarakan oleh Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry dan Lembagan Aceh Development Wacth (ADW), mengangkat tema “Meninjau kembali Konsep Deradikalisasi dalam Penanganan Terorisme di Indonesia”.[] (ihn)



