LHOKSEUMAWE – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh menggelar acara penyiapan kader-kader pembauran kebangsaan, di Lido Graha Hotel, Lhokseumawe, Rabu, 17 Oktober hingga Jumat, 19 Oktober 2018. Kegiatan tersebut diikuti Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Lhokseumawe dan puluhan guru SMA dari Kabupaten Aceh Utara, Bireuen dan Kota Lhokseumawe.
Acara difasilitasi Kesbangpol Aceh itu dilaksanakan Kesbangpol Lhokseumawe sebagai tuan rumah. Turut hadir perwakilan Kesbangpol Aceh Utara dan Kesbangpol Bireuen. Tema diusung, “Melalui pembauran kebangsaan diharapkan semakin tumbuh nilai-nilai kebangsaan dan solidaritas sosial di kalangan pendidik dalam menjaga keutuhan negara Republik Indonesia”.
Kepala Kesbangpol Aceh, Drs. Mahdi Efendi, dalam sambutannya mengatakan, keberagaman kehidupan di Indonesia dimulai dari keberagaman etnis, budaya dan agama. Itu merupakan aset berharga dan perlu dijaga.
Mahdi menyebutkan, acara tersebut bertujuan menyiapkan tenaga-tenaga pelatih pembauran kebangsaan yang terampil, mampu memberikan bantuan teknis, mengkoordinir, membina dan mengarahkan peserta didik dalam rangka memasyarakatkan program pembauran kebangsaan agar dapat dipahami dan dihayati oleh masyarakat secara luas.
“Kita sama-sama mengetahui bahwa akhir-akhir ini kualitas persatuan dan kesatuan bangsa mulai menurun. Ini bisa kita saksikan di berita media cetak maupun elektronik, bahwa banyak terjadi keributan yang disebabkan perbedaan suku,ras, etnis, agama, dan golongan lainnya. Ini terjadi karena masyarakat kita mudah terprovokasi, sehingga mengancam persatuan dan kesatuan bangsa menuju ke arah perpecahan.”
Maka dari itu, lanjut Mahdi, Kesbangpol melaksanakan kegiatan penyiapan kader-kader pembauran kebangsaan bagi guru dengan harapan, para peserta dapat menjadi agen perubahan dalam memperkukuh rasa persatuan dan kesatuan bangsa, melalui peranan setiap elemen masyarakat dalam pembangunan.
“Bangsa kita telah mengalami berbagai konflik, baik vertikal maupun horizontal yang menyadarkan kita bersama akan perlunya upaya bersama dari setiap komponen anak bangsa untuk menjaga dan mengawal secara simultan persatuan dan kesatuan bangsa. Melalui kegiatan ini, kita juga berharap akan terpatri semangat kebersamaan yang tinggi di kalangan kita semua,” ujar Mahdi Efendi.
Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Aceh, Prof. Dr. Syahrizal Abbas, M.A., menyampaikan tiga catatan kecil dalam sambutannya. Pertama, bangsa Idonesia terdiri dari beragam etnik, suku, bahasa, tradisi, kebiasaan, agama, dan ragam warna kulit. “Bisa bermakna positif, namun bisa pula bermakna negatif, tergantung bagaimana kita menyikapi dan memaknai keberagaman itu”.
Kedua, guru adalah salah satu komponen terpenting dalam mencerdaskan dan membangun peradaban bangsa. “Tanpa guru, mungkin sekarang kita tidak seperti ini, bahkan Rasulullah SAW juga guru, menyampaikan kisah Islam juga guru. Oleh karena itu, pemilihan peserta dari guru atau tenaga pendidik, saya pikir sangat tepat. Karena di tangan gurulah bisa melakukan transformasi nilai keberadaban, nilai persatuan, nilai kebangsaan kepada peserta didik,” kata Syahrizal Abbas.
Terakhir, lanjutnya, “Tantangan kita semakin hari semakin berat. Tantangan kebangsaan, bukan hanya tantangan daerah, tantangan nasional kita semakin hari semakin berat. Dominasi itu bukan hanya muncul dari dalam, tapi juga dari luar. Tantangan itu ada yang sifatnya terlihat dan bisa kita petakan, namun ada juga yang tidak terlihat secara kasat mata. Salah satunya adalah tantangan intervensi dari luar yang merombak wawasan kebangsaan yang kita miliki, tapi kita tidak boleh lengah untuk itu,” ujar Syahrizal Abbas.
Sementara itu, Asisten III Setda Lhokseumawe, Miswar, S.E., mewakili Wali Kota dalam sambutannya menuturkan, pembauran tidak terlepas dari nilai-nilai kebangsaan yang diperkuat empat pilar utama, sebagaimana telah diletakkan oleh Bapak Pendiri Bangsa (The Founding Father), yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Setiap warga negara berkewajiban memelihara kerukunan dengan dua aspek penting, yaitu kerukunan berbasis di bidang keagamaan dan kerukunan di bidang suku, ras dan etnis, serta adat istiadat,” kata Miswar.[]




