Halal bi Halal Majelis Seniman Aceh, Anggun Bertabur Bintang

Oleh: Thayeb Loh Angen
Jurnalis portalsatu.com/, Penyair dari Sumatra.

Malam itu, Ahad, 28 April 2024 / 19 Syawal 1445 H. Cuaca hangat dan bintang gemintang terlihat di langit kota tempat lahir Anzib Lamnyong pencipta lagu “Bungong Jeumpa” ini.

Panggung bersalup kain hitam telah siap di lantai sudut timur laut TB Coffee, Taman Budaya Aceh, Banda Aceh. Aroma kopi sareng mengepul di dapur sebelah barat ruangan. Deru angin sesekali datang dari balik pepohonan di Taman Gunongan.

Rebusan-rebusan telah diatur rapi di meja yang dilapisi daun pisang, di sebelah barat. Ada ketela rebus, jagung rebus, dan labu tanah (labu kuning) rebus. Kelapa parut turut disediakan untuk keurabeë sekalian rebusan tadi. Para seniman perempuan memasaknya petang tadi.

Pemain keyboard muda yang handal, Safwan Ibnoe Arhas, telah berada di panggung dengan keyboard terbarunya. Anak penyanyi legendaris dan penceramah Ibnoe Arhas itu memainkan musik dengan santai. Suara itu terdengar melalui soundsystem dari Bos Didi Managemen.

Cut Ratnawati, seorang perempuan pelatih model dan aktris film, bertindak sebagai pemandu acara. Dengan gaya lincahnya lekak lekuk peraga busana, dia memberikan kesempatan bagi siapapun untuk bernyanyi.

Sebagai pembuka, penyanyi dan dramawan, Adek, menyanyikan lagu “Bésame Mucho” karya Consuelo Velázquez. Lagu itu dinyanyikan dengan syahdu diiringi musik bergemerincing nada indah.

Bésame Mucho adalah sebuah lagu balada romantis berbahasa Spanyol, lagu yang terkenal secara internasional, paling banyak direkam di seluruh dunia.

Lagu-lagu terus disenandungkan, musik-musik pun terus dimainkan. Para seniman dari segala generasi terus berdatangan mengisi kursi yang telah disediakan.

Lea Amalia menuju panggung. Penyanyi perempuan muda baru binaan Syekh Ghazali LKB dari Kasga Record itu tampil membawakan lagu “Ie Bungong” dengan khidmat.

Lagu tersebut merupakan keluaran terbaru Kasga Record, sebuah perusahaan rekaman musik terbesar di Aceh, yang telah membesarkan penyanyi Ramlan Yahya, Rafly, Liza Aulia.

Seniman Syekh Ghazali LKB, merupakan Bendahara Umum Perkumpulan Majelis Seniman Aceh juga menjadi bendahara panitia acara yang anggun bertabur bintang ini.

Acara semakin meriah malam itu. Para seniman menikmati selaturrahmi yang dihadiri orang-orang satu kesukaan dalam kebudayaan.

Ketika para seniman berkumpul seperti ini, segala penampilan bisa dinikmati. Semuanya ditampilkan secara sukarela, sebagaimana acara ini dilakukan dengan cara meuripee sesama seniman.

Cut Ratnawati, yang juga sekretaris panitia, mempersilakan Nazar Shah Alam, yang dikenal dengan Apache 13-nya, untuk tampil menyanyikan lagu “Mona” dan “Leumoh Aneuk Muda”. Maka, seniman berambut panjang itu pun tampil dengan gaya khasnya.

Setelah dua lagu itu selesai, Nazar Shah Alam melanjutkan penampilannya dengan membaca puisi karya terakhir Doel CP Alisah, didampingi seniman legendaris, maestro seni pertunjukan Aceh, Udin Pelor.

Malam itu, Udin Pelor datang dengan gembira sebagaimana biasa. Dia dijemput dan diantar pulang oleh Teuku Zulkarnaini alias Ipoel Sajak, Ketua panitia malam itu. Ipoel juga ketua bidang organisasi di Perkumpulan Majelis Seniman Aceh.

Kita tidak akan meninggalkan seniman legendaris sendirian disudut kota ini, dia akan kita jemput ke setiap perhelatan silaturrahmi mengeratkan persaudaraan.

Sebagaimana slogan Majelis Seniman Aceh, “Silaturrahmi Terjaga, Berkarya Seuumur MaSA.”.

“Orang-orang seni tidak pernah tuha.”

Penyanyi dari Bereh Studio, Cut Fahara Putri, dipersilakan ke panggung. Dia pun tampil membawakan lagu dangdut kesukaannya dengan baik sebagaimana penampilannya di berbagai tempat pertunjukan di Banda Aceh dan sekitarnya.

Seorang politisi perempuan termasyhur di Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, yang hadir, pun naik panggung dengan sukaria.

Illiza Sa’aduddin Djamal, Nurul Akmal, Cut Ratnawati, di halal bi halal Majelis Seniman Aceh, di Taman Budaya, Banda Aceh, Ahad, 28 April 2024 / 19 Syawal 1445 H. @Majelis Seniman Aceh

Wali Kota Banda Aceh periode 2014-2017 yang terkenal dan anggota DPR RI periode 2019-2024 itu menyanyikan lagu “Panyong Keunangan” karya Amiruddin Aly dengan merdu. Dia didampingi Nurul Akmal, seorang aktivis perempuan dari Komite Perempuan Aceh Bangkit, dan Cut Ratnawati. Illiza, selain orator juga bisa bernyanyi dengan baik.

Malam semakin hangat. Para seniman masih menampilkan karyanya.

Di antara penampilan para seniman, Kepala UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas) Taman Seni Dan Budaya Aceh, Azhadi Akbar, memberikan sambutan.

Kata dia, pihaknya telah sepakat dengan Majelis Seniman Aceh untuk menghidupkan Taman Budaya.

Para seniman diizinkan menggunakan semua fasilitas di Taman Budaya untuk menampilkan karyanya, secara cuma-cuma. Sebulan sekali, sejak Juni 2024, insyaallah, akan dilaksanakan pertunjukan besar dengan menampilkan seniman dari berbagai bidang seni.

Acara halal bi halal yang bertabur bintang malam ini dilaksanakan oleh Perkumpulan Majelis Seniman Aceh (MaSA), sebuah organisasi yang didirikan pada akhir 2017 oleh Ayah Panton (Syamsuddin Jalil) dan sekalian handai taulan.

Majelis Seniman Aceh mengadakan acara halal bi halal dilakukan setiap tahun sejak 2018.

Sejak tahun 2022, Majelis Seniman Aceh, yang secara perlahan-lahan menjadi organisasi yang dijadikan sebagai tempat para seniman menyampaikan perihalnya ini, dipimpin oleh seniman Chariyan Ramli sebagai ketua umum.

@Majelis Seniman Aceh

Chairiyan dikenal sebagai Yan KanDe. Sebelum menjadi Ketua Umum perkumpulan ini, dia adalah manajer grup KanDe, sebuah grup musik Aceh yang telah menampilkan karyanya di beberapa negara.

Organisasi ini berupaya membuat seniman terorganisir secara baik, dapat mempertahankan keberadaannya secara nyata di dalam kehidupan yang seni belum dinilai sebagai profesi yang menguntungkan. Perlu banyak upaya untuk itu, tapi jika sebuah gunung mulai didaki, maka puncaknya semakin dekat selangkah demi selangkah.

Dari acara ke acara terlihat kekompakan di antara para seniman semakin terjalin.

Sebagaimana kata penyair/pujangga

Blang meuhalak leuhu saré
takalon pade ka dara
Bah pih tan galak lam até
han lônlahé bak kawôm lingka”

Malam semakin larut, acara silaturrahmi itu ditutup, panggung pun mulai ditinggalkan. Para seniman pulang ke tempat kediaman masing-masing dengan berbagai kesan terhadap acara bertabur bintang malam itu.

Malam tetap hangat, tidak ada hujan sampai pagi di kota yang menjadi tempat banyak seniman melahirkan karyanya ini. Angin dari Taman Gunongan masih menghembus ke Taman Budaya, sebagaimana para seniman menghembuskan harapan-harapannya.[]