SUBULUSSALAM – Harga Tanda Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di tingkat petani dalam wilayah Kota Subulussalam turun menjadi Rp1.280 per kilogram dari sebelumnya sekitar Rp1.500 per kilogram sejak sebulan lalu.

“Harga TBS turun sampai sekarang belum naik-naik juga. Kemarin saya jual sama agen pengempul Rp1.280 per kilogram,” kata salah seorang petani sawit di Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, Fredi, Senin 5 Februari 2018. 

Ia menyebutkan, harga sawit turun menyebabkan kebun petani tidak terawat dengan baik lantaran  hasil panen hanya pas-pasan digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. “Biasa duit hasil panen, selain untuk belanja dapur, juga bisa disisipkan untuk beli pupuk,” ujarnya.

Sudah jatuh ketimpa tangga, mungkin ini yang dirasakan Fredi bersama sejumlah petani lainnya di Subulussalam. Betapa tidak, selain harga TBS masih murah, produksi buah sawit juga mengalami penurunan (trek) sejak beberapa bulan terakhir. 

“Biasa saya sekali panen hasilnya 700 kilogram, sekarang cuma dapat 400 kilogram, hampir separuh trek,” keluhnya.

Murtala petani lainnya juga mengeluhkan hal yang sama akibat harga sawit tak kunjung naik sejak turun sekitar sebulan lalu. Harga TBS saat ini belum berada di titik aman mengingat harga sejumlah kebutuhan pokok masih sangat mahal. Kondisi berdampak pada merosotnya ekonomi petani.

“Melihat harga barang saat ini, idealnya harga TBS di tingkat  petani Rp1.700 per kilogram,” sebut Murtala.

“Karena ekonomi petani sangat tergantung harga TBS, turun sawit ekonomi petani merosot seperti sekarang,” sambungnya.[]