Orang-orang wuquf di Arafah, bermalam di Mina.

Mereka berihram, melempar jumrah, sa'i, dan thawaf, di Mekkah.

Ummat Nabi Muhammad SAW di seluruh penjuru bumi berhari raya, berkurban sanjung pada mereka yang mengenang Nabi Ibrahim, Nabi Isma'il, dan Siti Hajar, alaihumsalam.

Ada takbir bertalu-talu, makanan manis, dan daging dimasak.

Anak-anak berbaju baru, atau berpakaian usang, hujan dan matahari menyentuh bumi di masa berbeda.

Apatah cuaca, hari raya itu milik waktu. 

Di hari itu aku menunggumu, mengantar daging dan manis-manisan.

Kota, hunian pemukim zaman dan pendatang, lega sejenak, orang-orang pulang kampung, menyalami sanak saudara, di hari raya.

Dan, di sudut kota, ada tangisan, kanak-kanak berbaju usang, dan sampaikah daging kurban ke hunian mereka.

Niat menyejerahtrakan orang-orang ada di hati sebagian kita, namun tangan raja dan saudagarlah yang sempurna menjangkaunya.

Di negeri yang rajanya adil, orang-orang kaya akan pemurah, orang-orang berilmu akan menasehati rakyat dengan cinta dan suka rela, akan menegur raja dengan tulus dan berani, masyarakat dihargai dan terlindungi. 

Raja yang adil, mengubah negeri terasa surga.

Hadirkan raja yang adil, atau, jadilah raja yang adil. Tahta berganti keranda.

Banda Aceh, 10 Zulhijjah 1437 H, 12 September 2016.

Thayeb Loh Angen, penulis novel Aceh 2025.