Saat pulang bareng usai Subuh, kira-kira begini percakapan saya dengan seorang teman.
“Di rumah berdua saja bapak sama ibu,” tanya saya.
“Iya, pak, anak dua sudah nikah, yang terakhir masih kuliah. Sepi jadinya kami sejak pensiun tidak punya kegiatan,” ujarnya dengan sedikit mengeluh.
“Tapi bapak hebat, walau suami istri cuma guru, bisa punya rumah bagus dan besar, anak-anak sudah sukses. Bapak bisa hidup tenang, kalah jauh saya, pak,” puji saya menghiburnya.
“Aduh, pak. Penuh perjuangan kami, pak. Mulai beli tanah, membangun rumah, kami ambli kredit bank, sampai sekarang belum lunas. Pontang panting juga buat sekolahin anak-anak dan membiayai hidup,” tutur istrinya ketika kami tiba depan rumahnya. Sebuah mobil Avanza keluaran pertama tampak parkir di garasi rumahnya.
Sahabat!!!
Kisah di atas amat umum terjadi, terutama bagi PNS dan kalangan menengah lainnya.
Kita mengejar kebanggaan dengan setengah mampus. Punya rumah mentereng, mobil atau kemewahan lain. Untuk mendapatkan harta, kita menyusahkan hidup sepanjang masa. Masa pensiunpun kita masih didera utang. Belum lagi biaya menjaga kebanggaan itu.
Sehingga kita kehilangan kesempatan berbahagia yang hakiki. Semua aset yang kita bangun dan beli dengan susah payah, malah menjadi beban hidup kita. Biaya kebersihan, perawatan rumah, kendaraan, dll.
Dan sesungguhnya itu bukanlah aset real. Sebab memakan pendapatan Anda. Aset real adalah sesuatu yang bertambah. Menghasilkan dan dapat kita jadikan topangan hidup.
Kita harus bisa membedakan antara aset dan leability. Aset menghasilkan. Leability itu utang atau beban. Bila Anda bangga itu cuma semu.
Renungkan![]




