3 Juni adalah tanggal Aceh kehilangan salah satu bapak negeri terbaik, Muhammad Hasan Ditiro (Hasan Tiro). Tahun ini adalah tahun ke-8 kepergian Beliau. Berkenaan dengan hal ini saya ingin menyentuh pembahasan mengenai warisan yang ia tinggalkan.
Warisan tersebut bagi kaum muda zaman sekarang, pastinya, bukanlah sebuah bangsa yang merdeka. Lebih penting dari itu, Hasan Ditiro meletakkan dirinya sebagai contoh dihadapan generasi Aceh sebagai pemancar kesadaran akan sejarah dan tradisi Aceh. Inilah warisan yang menurut saya telah Beliau wariskan.
Ia secara konkrit membangun kembali kesadaran tersebut sejak pertengahan abad ke-20 hingga permulaan abad ke-21. Pemahaman sejarah dan tradisi ini berhubungan dengan proses struktur sosio-politik yang telah tertanam di Aceh sejak permulaan expansi Islam di Asia Tenggara hingga hari ini. Untuk memahami keseluruhan proses ini, seluruh aspek sejarah Aceh perlu dipertimbangkan secara rinci. Berkenaan dengan ini sejarah Aceh dapat dikategorikan dalam 5 fase:
- Aceh muslim komuniti pada abad-abad permulaan
- Penjajahan colonial dan struktur politik Aceh
- 300 tahun tantangan interaksi ekonomi dan politik dengan kekuatan Eropa
- Perang Aceh dalam pertengahan kedua abad ke -19 an pengaruh kolonialisasi Belanda di Aceh
- Pergerakan Aceh Merdeka pada abad ke-20
Kesemua fase di atas tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Jika satu fase saja terabaikan maka pemahaman mengenai masyrakat Aceh hari ini akan menjadi kontradiksi.
Bagian akhir fase diatas dipimpin oleh Hasan Ditiro. Dengan kemampuan kepemimpinan Beliau, fase diatas tercatat sebagai fenomena terakhir dalam sejarah Aceh. Apa yang mengikat Hasan Ditiro dan pergerakannya dengan masa lalu bukanlah perjuangannya dalam melawan rezim tentara yang paling besar di Asia Tenggara, tapi tanpa diragukan berhubungan erat dengan latar belakang sejarah Hasan Ditiro dan transformasi kehidupan dan ideologinya terhadap sebuah kemerdekaan. Peran Hasan Ditiro dalam proses ini adalah umpama seorang pengemudi kereta api terakhir dalam rute perjalanan sejarah Aceh.
Hasan Ditiro tidak dapat mewujudkan negeri independen seperti bangsa-bangsa modern lainnya yang merdeka. Meskipun begitu, ini tidak dapat semata mata disebut sebagai kegagalannya dalam memimpin pergerakan. Namun sebaliknya, ia telah berhasil membentuk kembali jiwa independensi yang ia wariskan dari leluhurnya. Oleh karena itu ia punya hak untuk didokumentasikan dalam sejarah Aceh sebagaimana leluhurnya dan ia akan terus diingat dalam memori sosial masyarakat Aceh.
Keunikan inetelektualnya jika dibandingkan dengan intelektual lain yang hidup pada periode yang sama di Aceh adalah kesuksesannya memahami dan menggabungkan teori dengan praktis. Dalam hal ini, Hasan Ditiro mematerialisasikan eksistensinya sebagai anggota ‘keluarga saman ditiro’ yang berkontribusi dalam perang Belanda dengan mempromosikan ruh sebuah jihad.
Kita perlu dengan jelas mengekspresikan bahwa Hasan Ditiro yang merupakan bagian penting dari anggota keluarga tersebut tidak lantas membuatnya teristimewa tapi sebaliknnya, ia berada dalam tekanan moral yang besar. Tekanan moral ini tidak mejadikannya secara instan berada dalam pengakuan kepemimpinan elit tapi terlebih dahulu menuntunnya untuk mengendarai kepemimpinan. Seperti apakah kendaraan tersebut? Kendaraan tersebut adalah kesadaran sejarah yang telah mengembangkan identitas sosial secara signifikan.
Ketika Beliau mendeklarasikan Aceh Sumatera Merdeka, diketahui dinamisme pergerakannya merupakan bagian alami dari sejarah Aceh. Contohnya sebagaimana yang kita saksikan dalam salah satu karya pentingnya berjudul, the Drama of Acehnese History (1873-1978). Hasan Ditiro meletakkan tahun 1873 untuk merujuk pada perang Belanda, dan mengakhiri pada tahun 1978 ia merujuk secara simbolik pada kekuatan yang dilawan Aceh Merdeka secara politik. Secara tidak langsung ia menyamakan kekuatan yang dilawan Aceh pada tahun 1873 dengan kekuatan yang ditentang pada tahun 1978.
Dalam kenyataan ini, akademia barat kemudian mengklasifikasikan pergerakan tersebut sebagai mikro-ethnik nasionalism. Dengan definisi di atas, mereka membuktikan perspektif bias mereka dan batasan dalam memahami proses sejarah Aceh. Pada saat yang sama, dengan sebutan tersebut, secara explicit, mereka mengatakan bahwa pergerakan ini memiliki makna sekuler.
Bukan hal yang mengejutkan, pendekatan seperti yang tersebut diatas selalu memakai pendekatan dengan mind-set sekuler dan dengan persepsi pikiran semacam inilah mereka mencoba memahami pergerakan di geografi-geografi Islam dan tidak menghubungkan pergerakan ini dengan kealamiahan proses sejarah di wilayah tersebut. Tapi yang lebih mengejutkan adalah kenyataan bahwa ada kelompok terdidik secara modern dan tradisional dalam masyarakat Aceh yang defectif dalam memahami Hasan Ditiro dan pergerakannya.
Perspektif akademia Barat dan kelompok asli masyarakat Aceh dalam memahamai Aceh dan Hasan Ditiro telah saling bertumpang-tindih. Tidak mengherankan jika kemudian mereka hanya bisa mengandalkan kecacatannya dalam berargumen. Pada dasarnya, defisiensi ini muncul seiringan dengan kegagalam mereka dalam memahami persepsi penjajahan model lama dan baru yang dikemukakan Hasan Tiro.[]Sumber:pukatfoundation.wordpress.com




