CUT Mutia syahid 25 Oktober 1910 bersama pasukannya di hutan belantara Pucok Krueng Peutoe. Bagi orang Aceh, syahid dalam perang kolonial suatu kemuliaan. Namun, tidak ada data valid siapa yang melihatnya terakhir, menguburkannya, apalagi memotretnya (lagi-lagi itu bukan zaman “selfi”). Bahkan, puluhan tahun makamnya terbengkalai tidak terawat dan “hampir” tidak diketahui jejaknya.

Bagi saya itu lebih memilukan dengan membaca buku Talsya (1982) bahwa Cut Mutia digelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Surat Kepres 107 RI Tahun 1964, tetapi makamnya belum diketahui. Hingga 27 Juli 1972, Tim Pemkab Aceh Utara dan Camat Matangkuli menelusuri hutan dan menemukan makam Cut Mutia. Kemudian mereka menemukan makam Teungku Seupôt Mata berjarak 10 meter sebelah kanan. Talsya melengkapi dengan sumber Petikan dari Surat Camat Matangkuli kepada Ketua Pekan Kebudayaan Aceh II (5 Agustus 1972, No. 831/19).

Kini, ditambah potret “memalukan dan memilukan” dengan polemik “pro-jilbab” foto sejarah dengan “pro-aurat” yang dua-duanya tidak mau membuka data-data primer dan otentik, hanya cukup dengan dalil “nenek moyang” melegalkan segala opini. Merepro foto Cut Mutia berjilbab -seperti sekarang- ataupun tidak berjilbab sama dengan “merekonstruksi rumah tanpa pondasi”. Padahal, masih banyak pahlawan Aceh yang perlu diperjuangkan, termasuk para syuhada bersama Cut Mutia; Teungku Cut Muhammad, Pang Nanggroe, Teungku Syekh Paya Bakoeng atau Teungku Seupôt Mata, Teungku Mat Saleh dan lainnya.

Bek peugah droe hebat, menyo ata indatu mantong hanjeut tarawat”.[] Baca selengkapnya di hermankhan.com