Oleh: Taufik Sentana*
Sejatinya hukum awal kejadian dan tumpahan hujan adalah berkah, rezeki dan rahmat Allah. Itulah hujan yang rahmatillah, hujan yang menjatuhkan rahmat Allah. Maka ada anekdot sufi, yang menceritakan seorang wali yang tak lari saat tumpahan air hujan menimpa dirinya, karena ia tak ingin lari dari Rahmat Allah.
Begitu pula saat mula semesta, hujan diturunkan sebagai penetral kosmik dunia, saat itu hujan berlangsung seterusnya dan panas berlangsung seterusnya, siklusnya belum terpola seperti sekarang.
Di bagian awal surat Al baqarah disajikan bahwa, hujan yang diturunkan Allah adalah “Rizqan lakum”, demikian di sebagian besar ayat yang berkaitan dengan cuaca, tumbuhan dan kehidupan makhluk, semua mengindikasikan bahwa hujan itu rahmat Allah. Bahkan Allah, bisa menurunkan air hujan yang asin rasanya (ini sebagai bantahan logis khas Alquran bagi yang mengingkari kekuasaan Allah).
Untuk itu, kita mesti selalu berhusnu zhan, bahwa selalu ada Rahmat Allah dalam hujan yang turun. Kita mungkin menyangka bahwa rahmatNya itu berupa panen yang berhasil saja. Padahal, di balik panen yang gagalpun, bila kita mampu beristirja' (sadar akanNya/bersikap ihsan) juga bagian dari rahmat Allah juga. Sebab, Allah telah menakar semua kejadian denga segenap ilmu dan rahmatNya.
Lantas, kesadaran dan pengetahuan kita yang belum sampai pada tingkatan” ilmuNya. Teknologi kita yang ceroboh dan industri kita yang angkuh dalam konservasi alam, atau kelemahan kita dalam mengharmonikan tumpahan hujan dengan kesiapan kita secara multi disiplin ilmu: menampung, mengalihkan, menyimpan curah hujan, serta faktor hutan dan gunung serta kebiasaan kita dalam membangun jalan jalan di sepanjang kota: Kita masih lemah dalam hal ini secara teknik-lingkungan dan hydrologi.
Begitulah, hujan yang rahmatillah itu bisa berubah maknanya tergantung siklus-kosmik spiritualitas kaum setempat. Kita hanya bisa berserah diri dan mengambil hikmah, tanpa menghakimi kejadiannya dan tanpa mencela hujanNya.[]
*Ikatan Dai Indonesia, Kab. Aceh Barat.



