Selasa, Juni 25, 2024

Yayasan HAkA Minta APH...

BANDA ACEH - Berdasarkan pemantauan yang dilakukan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh...

HUT Ke-50, Pemkab Agara-Bulog...

KUTACANE - Momentum HUT Ke-50, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tenggara bekerja sama dengan...

Pemilik Gading Gajah Super...

BLANGKEJEREN - Satreskrim Polres Kabupaten Gayo Lues berhasil mengungkap kasus kepemilikan dua gading...

YARA Minta Polisi Transparan...

ACEH UTARA - Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) mendesak kepolisian serius menangani kasus...
BerandaNewsHukum Cambuk Menanti...

Hukum Cambuk Menanti DPLT Setelah ”Memesan” Ojek Online

BANDA ACEH – Birahinya (maaf) diduga sudah di ubun-ubun. Mungkin ini kalimat yang tepat diberikan untuk pria berinisial DPLT berusia 18 tahun itu. Kenapa?

Sekonyong-konyong mahasiswa di salah satu perguruan tinggi ini diduga tidak mampu memendam hasrat biologisnya yang dinilai abnormal– suka sesama jenis–sehingga diduga nekat mengajak “berkencan” salah satu pria berprofesi sebagai driver ojek online, Sabtu, 6 Januari 2018. Padahal, praktik hubungan sesama jenis sangat tabu bagi masyarakat Aceh yang mayoritasnya adalah pemeluk Islam. Di Aceh, larangan berhubungan sesama jenis ini bahkan sudah dimasukkan dalam produk hukum berupa qanun, yang berujung hukuman cambuk bagi pelanggar. Alhasil, DPLT dibekuk petugas dan kini terpaksa menghadap polisi syariah.

Berdasarkan keterangan polisi, DPLT diketahui berusia 18 tahun. Dia merupakan warga yang saat ini berdomisili di Darussalam, Aceh Besar. DPLT terpaksa diserahkan ke polisi syariah (Wilayatul Hisbah) setelah mengirimkan pesan tidak senonoh kepada AKP, 23 tahun, yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online. AKP sendiri berdomisili di Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.

Kapolsek Syiah Kuala AKP Hendri Asyari saat dikonfirmasi wartawan, Minggu, 7 Januari 2018, menceritakan kronologis kejadian terkait kasus ini. Penangkapan DPLT berawal saat pria tersebut mengorder AKP sebagai driver ojek online untuk menjemputnya di kawasan kampus Darussalam sekitar pukul 17.00 WIB. 

AKP langsung menghubungi nomor handphone DPLT untuk memastikan terduga gay itu mengorder jasa ojek online. Namun, DPLT mengaku kalau baterai handphone miliknya telah habis. Dia kemudian meminta AKP untuk menghubungi DPLT melalui aplikasi WhatsApp. 

AKP sebagai driver ojek online tidak ingin kehilangan ordernya. Dia kemudian menyanggupi permintaan kliennya tersebut. “Pada saat mereka sedang chating melalui WhatsApp, pelaku meminta kepada korban untuk pelaku dikasih menghisap kemaluannya korban,” kata Kapolsek Syiah Kuala.

AKP kemudian menghubungi rekan-rekannya setelah menerima pesan bernada aneh tersebut. Mereka lantas berangkat ke salah satu gedung di kawasan kampus Darussalam tempat DPLT menunggu. AKP kemudian menjumpai DPLT sendirian, sementara rekan-rekannya menunggu di luar gedung. 

“Setelah korban dan pelaku jumpa, baru kawan-kawan korban masuk serta langsung menangkap pelaku dan langsung menghubungi Kanit Reskrim Polsek Syiah Kuala,” kata AKP Hendri lagi.

Personil polisi yang mendapat informasi dari AKP dan rekan-rekannya langsung bergerak ke lokasi. Mereka kemudian mengamankan DPLT ke Markas Polsek Syiah Kuala untuk penyidikan.

“Hasil interogasi, terduga tidak dapat dijerat undang-undang pidana. Kemudian terduga langsung diserahkan kepada Wilayatul Hisbah (WH) Kota Banda Aceh,” ujar Kapolsek Syiah Kuala AKP Hendri Asyari.

Ketentuan mengenai liwat telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 2006 tentang pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Penerapan hukum cambuk terhadap pelaku liwat dicantumkan dalam Qanun Nomor 6 tahun 2014.[]

Laporan: Muhammad Saifullah

Baca juga: