Sementara kapsul di dalam pipa didesain untuk mengambang, baik dengan metode bantalan udara atau dengan teknologi magnetis. Hyperloop pada dasarnya memang mirip dengan kereta jenis magnetic levitation (maglev), hanya saja karena tidak terhalang oleh tekanan udara, kecepatannya jauh lebih tinggi.

Pengembangan Hyperloop

Sekarang, pemain utama yang bergerak di pasar teknologi hyperloop adalah SpaceX milik Elon Musk tentu saja, lalu ada Hyperloop Transportation Technologies, Hyperloop One, TransPod, dan Virgin Hyperloop.

Kelima perusahaan ini rutin melakukan uji coba hyperloop. Berbagai negara pun sudah berminat untuk mengimplementasikan hyperloop di masa depan. Hyperloop Transportation Technologies misalnya, pada 2017 mengumumkan akan menghadirkan hyperloop di AS, Slowakia, Abu Dhabi, Republik Ceko, India, Brasil, Korea Selatan, dan Indonesia.

Hyperloop Saat Pandemi

Pandemi global virus Corona ikut mempengaruhi pasar teknologi hyperloop. Beberapa negara sempat menundanya, namun kemudian muncul optimisme bahwa hyperloop bisa sangat relevan di masa pandemi dan sesudahnya.

Di AS misalnya, pemerintah di sejumlah negara bagian dan federal mengakui pentingnya teknologi ini untuk melindungi pelancong dari populasi kepadatan tinggi di kereta dan pesawat selama masa krisis kesehatan seperti pandemi COVID-19.

Di masa pandemi, hampir semua transportasi kepadatan tinggi, dari maskapai penerbangan hingga kereta cepat nyaris terhenti aktivitasnya. Tantangan yang dihadapi sektor transportasi sangat besar dan beragam.

Di sinilah teknologi hyperloop justru optimistis melihat peluang. Pada masa seperti sekarang, dibutuhkan moda transportasi yang memiliki kepadatan rendah, namun volume tinggi. Sesuatu yang punya dua kali kecepatan pesawat, namun lebih aman daripada transportasi umum manapun saat ini, dapat diandalkan, dan kebal terhadap bermacam cuaca.[]tla

Baca Juga: Elon Musk Mau Bangun Negara di Mars, Mulai Letakkan Dasar-Dasarnya