Oleh: Nab Bahany As*

Kalau ditanya bagaimana orang Aceh? Snouck Hurgronje punya pendapat sinis begini: Aceh adalah sebuah negeri yang sudah tua, rakyatnya keras, suka berperang dan fanatik terhadap Islam. Pendapat Snouck ini berdasarkan sudut pandangnya sebagai penjajah.

Selama bertahun-tahun penasihat pemerintah Hindia Belanda ini mengkaji masalah Aceh, akhirnya dia berkesimpulan bahwa masyarakat Aceh adalah masyarakat yang “heroik”, mereka patut dibanggakan atas keberanian dan kegigihannya melawan kaum penjajah.

Heroisme masyarakat Aceh juga terlihat dalam hampir setiap gerak kesenian yang dimainkan. Dalam seni tradisional Seudati misalnya, kalau kita jeli memperhatikan gerak seni Seudati yang dimainkan orang Aceh, jelas terliihat gerakan tariannya menggambarkan sebuah karakter masyarakat Aceh yang sangat heroik. Gerakan-gerakan yang dibangun orang Aceh dalam seni Seudati ini mirip seperti orang berperang gerilya. Kadang mereka mudur, lalu maju. Kemudian menghindar, tiba-tiba maju lagi seperti orang membuat serangan perang yang diluar perkiraan musuh.

Dilihat dari sikap mentalnya, menurut sejarawan Prof. Abu Bakar Aceh, orang Aceh ini hampir mirip sifatnya dengan orang Badui di Jazirah Arab. Kesamaan ini kata Abu Bakar, karena selain orang Aceh memiliki watak yang keras—yang sama kerasnya dengan kaum Badui di tanah Arab—namun di balik watak yang keras itu orang Aceh juga memilki sifat yang sangat lembut. Artinya, orang Aceh lebih merasakan sesuatu dengan perasaannya.

Kelembutan sifat orang Aceh ini tercermin dalam setiap tutur kata yang lemah-lembut dengan bahasa-bahasa metafora yang penuh seni. Karena tidak mengherankan, kalau masyarakat Aceh memiliki kekayaan seni sastra yang sangat tinggi nilainya. Sama seperti tingginya nilai sastra Arab yang dikembangkan kaum Badui di Jazirah Arab.