Setidaknya pendidikan Islam merupakan piranti utama umat dalam mentranformasi semua nilai normatif Islam, yang terintegrasi pada setiap aspek kehidupan, bahkan bersifat transenden dan ukhrawi, demikian menurut Alattas dan Hasan L.
Pendidikan Islam tidak berhenti pada penyiapan individu sebagai warga negara dan dunia semata. Sebab nilai universalitas Islam merangkum semua wilayah dan zaman serta tunduk pada prinsip prinsip yang dibawa para nabi,khususnya nabi terakhir, Muhammad SAW. Namun, tetaplah prinsip prinsip itu bisa diadaptasi tanpa menisbikan nilai lokal setempat selama tidak melanggar norma akidah.
Diantara yang paling membedakan idealita (tujuan) pendidikan Islam dengan selainnya adalah referensi berupa Alquran dan Hadis yang diinduksi secara konsensus melalui ulama dan tokoh muslim yang muktabar.
Sehingga idealita pendidikan Islam selalu sejalan dengan prinsip asasnya. Maka untuk maksud itu, dalam skala utama hasil idealnya dikenal dengan “Khalifatullah fil Ardhi”, secara taktis,diartikan sebagai pemakmur bumi, penyelaras Sunnatullah.
Pada kerangka ini,para kaum terpelajar (dengan profesi apapun) mestilah berkarakter “khalifah”, berwawasan global, menjaga sumber daya alam, mengembangkan potensi diri dan menghindari pengrusakan di bumi.
Adapun secara keilmuan, hasil dari proses pendidikan Islam tadi adalah terwujudnya karakter terpelajar “ulul albab”, yang memberi nilai lebih secara zikir dan tafakkur atas semesta dan lingkungan. Sejalan dengan itu, terwujud pula karakter dai dan ulama yang (secara khusus) menjadi penyuluh di tengah masyarakat.
Sedangkan aplikasi keseluruhan dari idealita pendidikan Islam tadi adalah menyelaraskan setiap aktivitas/amal si individu (yang terpelajar/terdidik) dalam rangka ibadah dengan menyalakan semangat amal salih sembari menyeru pada yang ma'ruf dan mencegah kemungkaran.
Sesungguhnya dengan idealita ini, Islam akan selalu menjadi rahmatan lil alamin.[]
Taufik Sentana
Praktisi pendidikan Islam
Berkhidmat sejak 1996. Pernah menimba ilmu di Darul Arafah Medan, Misbahul Ulum Aceh, Yusriyah Langkat serta STAI Malikussaleh.



