LHOKSUKON –  Ikan bakar binaan Kejaksaan Negeri Lhoksukon, Aceh Utara menjadi idola selama bulan suci Ramadan. Bukan hanya diminati warga lokal, tapi juga diidolakan para pengguna jalan yang melintas. Selain ikannya masih segar, bumbu yang digunakan juga racikan rumahan.

Lapak berupa tenda ikan bakar itu berada persis di pinggiran jalan Medan–Banda Aceh, persisnya depan warung kopi (warkop) Jasa Ayah. Lokasi yang strategis menjadikan ikan bakar olahan pemuda Lhoksukon ini laris manis.

“Pembeli dapat memilih sendiri ikan yang diinginkan. Semua masih segar karena kami beli langsung dari nelayan di Lhokseumawe dan Samudera. Setelah dipilih, barulah ikan dibakar. Jadi tidak ada istilah sisa kemarin,” kata Ramli Walkot, Koordinator Pemuda Binaan Kejaksaan Negeri Lhoksukon kepada portalsatu.com, Sabtu, 18 Juni 2016.

Ramli menjelaskan, ada beberapa jenis ikan andalan dengan harga bervariasi. Seekor ikan kakap yang telah dibakar dijual dengan harga Rp 40ribu hingga Rp 60ribu sesuai ukuran dan berat dalam kilogram. Ikan kerapu Rp 35 ribu per ekor, ikan rambe Rp 30ribu hingga Rp 60 ribu dan ikan merah Rp 25ribu.

“Alhamdulillah, ikan bakar dengan racikan bumbu saya sendiri ini cukup diminati. Dengan waktu berjualan di atas pukul 16.00 WIB hingga menjelang waktu berbuka, ikan yang habis terjual per hari mencapai 20 kilogram,” ujar Ramli.

Kepala Kejaksaan Negeri Lhoksukon, Teuku Rahmatsyah, S.H., M.H., melalui Kasi Pidsus, Muhammad Rizza, S.H.,  menyebutkan, ini merupakan program perdana dengan tujuan membantu meningkatkan perekonomian para pemuda agar memiliki penghasilan menjelang lebaran. Selain itu, juga untuk memberi kegiatan positif kepada para pemuda agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan.

“Ada dua usaha yang dijalankan dengan melibatkan 21 pemuda. 12 orang untuk kelapa muda dan sembilan orang untuk ikan bakar. Kelapa muda direncanakan akan terus berlanjut meski Ramadan usai, sedangkan ikan bakar mungkin hanya saat puasa saja. Namun akan dilihat juga bagaimana peluang nantinya, jika memang tetap diminati akan dilanjutkan. Di sini dana awal dari Kejaksaan, tapi mereka tidak diwajibkan untuk mengembalikan dana tersebut,” ucapnya.

Sejauh ini, Rizza melihat respon yang luar biasa dari para pemuda tersebut. Bahkan mereka berharap program seperti ini dapat ditingkatkan dan dilanjutkan. Untuk lapak dagang kelapa muda berada di dekat Kantor Pos Lhoksukon.

“Ide ini awalnya muncul saat Kajari Teuku Rahmatsyah, saya dan pemuda Lhoksukon duduk bersama. Kala itu kami berinisiatif membuat program yang bisa mendongkrak perekonomian pemuda. Lalu muncullah ide ikan bakar segar yang memang belum ada di Lhoksukon. Untuk kelapa muda, meski sudah ada tapi tetap banyak peminatnya,” pungkas Rizza.[]