GURU-guru Imam Sy?fii di Yaman di antaranya adalah: Mathrar ibn Mazir, Hisyam ibn Abi Yusuf Qadli Syama, Umar ibn Abi Salamah (pembangun mazhab al-Auza?, Yahya ibn Hasan (pembangun mazhab Leits). Pengembaraan yang dilakukan oleh Imam Sy?fii dalam rangka untuk mencari arti hidup dan untuk menyempurnakan semua ajaran yang pernah diperoleh dari para ulama yang pernah mereka kumpuli dan pernah ia ajak berdiskusi.
Dan pada puncak karirnya pada tahun 198 H ia pindah ke mesir dan banyak berdiskusi dengan para ulama yang pernah menjadi muridnya. Dan selama tinggal di Mesir ia merasa mantap dengan pandangan hukumnya dan mantap dengan mazhabnya yang baru. Setelah ia mengembara sambil mencari ilmu ke Makkah, Madinah, Yaman, Irak dan Mesir, akhirnya ia meninggal di Mesir pada bulan Rajab Tahun 204 H.
Sebagaimana yang penulis sebutkan sebelumnya, bahwa pengertian mazhab dalam istilah syariat Islam berarti fatwa-fatwa atau pendapat seorang imam mujtahid. Berdasarkan definisi tersebut, maka mazhab Sy?fii adalah fatwa-fatwa Muhammad ibn Idris dan sahabat-sahabatnya. Imam Sy?fii adalah seorang sufi dan ulama besar yang Mazhabnya banyak dianut oleh orang Islam, banyak keistimewaan dan kelebihan yang dimiliki oleh Imam Sy?fii.
Pada usia remaja, di samping ia sudah menguasai ilmu-ilmu karena rajin belajar, ia juga rajin menulis, karena tidak ada alat tulis, maka karyanya itu ditulis di tulang-tulang unta, kulit kamibng dan sebagainya, sehingga kamarnya penuh dengan tulang onta dan kulit kamibng itu membuat ia susah untuk beristirahat, lalu beliau menghafal semua karya-karyanya lalu membakar semua tulang dan kulit binatang tersebut.
Hal ini memudahkan ia untuk berpergian ke mana-mana tanpa harus membawa karya-karya tulis yang banyak. Mengungkap kisah keistimewaan Imam Sy?fii, pada suatu hari salah seorang syekh pernah bertemu dengan Rasulullah dan bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, sebuah hadits telah sampai kepadaku bahwa di bumi ini Tuhan memiliki wali-wali dengan berbagai tingkatan. Rasulullah bersabda dan menjawab pertanyaan Syekh tersebut dengan berkata: Muhammad ibn Idris adalah salah seorang di antara mereka.[]
Sumber bacaan: [1] Labib MZ-Drs. Farid Abdullah, Kisah Kehidupan Para Sufi Terkemuka…, h. 23. [2] Labib MZ-Drs. Farid Abdullah, Kisah Kehidupan Para Sufi Terkemuka , h. 24.

