LHOKSEUMAWE – Jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i memperingati Hari Wafat Imam Syafi’i ke-1241 tahun dan Haul Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i, di Kompleks Pendopo Tarbiyah, di Desa Meunasah Mee, Kandang, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Senin, 5 Februari 2024.
Pada acara tersebut juga dideklarasikan Lambang Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i yakni Masjidil Haram dan Nabawi sebagai lambang persatuan umat Islam sedunia.
Acara itu dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Dayah Provinsi Aceh Dr. Munawar A. Jalil mewakili Pj. Gubernur Aceh, Ketua DPRK Lhokseumawe Murhaban, Sekretaris Dinas Pendidikan Dayah Lhokseumawe Drs. Tgk. Ikhwansyah, M.A., mewakili Pj. Wali Kota Lhokseumawe, Plt. Kepala Satpol PP dan WH Heri Maulana, sejumlah kepala SKPD di Lhokseumawe, unsur TNI, Polri, alim ulama, para geusyik dan imum gampong di Lhokseumawe dan Aceh Utara, serta ratusan masyarakat.
Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat tentang Talut dan Jalut. Lalu, kata sambutan dari unsur pemerintah, dan dilanjutkan pembacaan sejarah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i oleh Tgk. Ahmad Banda Dua, Pimpinan Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i di Aceh saat ini.
Setelah itu dilakukan deklarasi Lambang Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Masjidil Haram dan Nabawi sebagai lambang persatuan umat Islam sedunia. Kemudian pemukulan beduk oleh pejabat mewakili Pemerintah Aceh, dan dilanjutkan dengan pengibaran bendera Lambang Tarbiyah Islamiyah Masjidil Haram dan Nabawi oleh para santri dan jamaah Tarbiyah.
Terakhir, pembacaan kitab kuning dan doa bersama dipimpin Abi Lukman.
Tgk. Ahmad Banda Dua mengatakan acara tersebut dilakukan karena sudah pernah dibuat oleh ulama Tarbiyah dahulu kala, yang tujuannya untuk mengenangkan dan sangat berkesan dalam mempersatukan akidah Ahlusunnah waljama’ah dengan satu jalur yaitu Mazhab Syafi’i.
“Karena demikian pada masa hidup beliau ingin mempersatukan empat mazhab menjadi satu mazhab yaitu Mazhab Syafi’i supaya kita hidup satu arah dan jalan menuju kebaikan bersama,” ujar Tgk. Ahmad akrab disapa Abon.
Oleh karena itu, kata Tgk. Ahmad, jamaah Tarbiyah Islamiyah melaksanakan acara tersebut setiap tahun supaya umat Islam mengetahui bahwa Mazhab Syafi’i sangat berpengaruh dalam mendidik moral umat Islam dalam mempersatukan i’tiqat Ahlusunnah wal jama’ah dalam Mazhab Syafi’i.
“Mazhab Syafi’i tak akan pudar di kalangan umat Islam di Serambi Mekkah dan seluruh dunia. Cendikiawan muslim tujuh zua’mma (ulama Tarbiyah) yang tak pernah diam diri dalam mempersatukan umat Islam dalam Mazhab Syafi’i. Maka dari itulah saya Pimpinan Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i pada akhir Rajab (1445 H) mendeklarasikan Lambang Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Masjidil Haram dan Nabawi sebagai lambang persatuan umat Islam sedunia, genap pada satu abad mulai dari runtuhnya Kerajaan Islam dari Syarif Husen, 1924-2024,” tutur Tgk. Ahmad.
Menurut Tgk. Ahmad, tujuan Tarbiyah peninggalan Sultan Malikussaleh untuk membawa perubahan moral dan akhlak umat Islam dari kotor kepada bersih dengan ilmu Mazhab Syafi’i. “Tidak ada tujuan lain, karena tarbiyah bukanlah organisasi dan partai politik, murni ingin mempersatukan umat Islam dalam Mazhab Syafi’i,” pungkasnya.
Sebelumnya, jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i telah berziarah dan menggelar doa bersama di Makam Sultan Malikussaleh, di Desa Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, Sabtu (3/2/2024).

[Jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i menggelar doa bersama dipimpin Tgk. Ahmad Banda Dua saat ziarah Makam Sultan Malikussaleh, di Desa Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, Sabtu, 3 Februari 2024. Foto: Istimewa][](ril)






