Minggu, Juli 21, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaImplementasi Pranata dalam...

Implementasi Pranata dalam Kehidupan

DALAM kehidupan ini manusia di ikat oleh aturan hukum untuk kemashlahatan hidup di permukaan bumi ini. Salah satu istilah yang sering kita dengar berhubungan dengan hokum adalah pranata hukum. Ungkapan“pranata” merupakan istilah sosiologi yang sering dihubungkan dengan kata sosial. Oleh karena itu dalam pembahasan sosiologi pranata selalu disebut istilah pranata sosial.

Pranata sosial berasal dari istilah bahasa Inggris intitution. Istilah-istilah lain pranata sosial ialah lembaga dan bangunan sosial. Walaupun istilah yang digunakan berbeda-beda, tetapi intitution menunjuk pada unsur-unsur yang mengatur perilaku anggota masyarakat.

Pranata juga bersal dari bahasa lain istituere yang berarti mendirikan. Kata bendanya adalah institution  yang berarti pendirian. Dalam bahasa Indonesia institution diartikan institusi (pranata) dan institut atau lembaga. Institusi adalah sistem norma atau aturan yang ada. Institut adalah wujud nyata dari norma-norma. Pranata adalah seperangkat aturan yang berkisar pada kegiatan atau kebutuhan tertentu. Pranata termasuk kebutuhan sosial. Seperangkat aturan yang terdapat dalam pranata termasuk kebutuhan sosial yang berpedoman kebudayaan. Pranata merupakan seperangkat aturan, bersifat abstrak.

Menurut Koentjaraningrat, istilah pranata dan lembaga sering dikacaukan pengertiannya. Sama halnya dengan istilah institution dengan istilah institute. Padahal kedua istilah itu memiliki makna yang berbeda. Salah satu gagasan dasar dalam rumpun ilmu-ilmu sosial, khhususnya dalam disiplin antropologi dan sosiologi adalah tentang institusi sosial (social institution), sebagai salah satu aspek statis dalam kehidupan masyarakat. Antropologi lebih menekankan pada aspek kebudayaan, sedangkan sosiologi lebih menekankan pada aspek struktur dan proses sosial.

Selanjutnya pranata itu mengalami konkretisasi dalam struktur masyarakat, dalam bentuk berbagai organisasi sosial sebagai wahana untuk memenuhi kebutuhan hidup secara kolektif dan terencana. Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia walaupun dalam pelaksanaannya tidak resmi dalam sehari-hari berlandaskan hukum negara yang berdasarkan agama Islam. Namun sebagai muslim yang taat dan patuh kepada norma agama sudah berkewajiban secara individual untuk melaksanakan syariat agama.

Pranata itu banyak di antaranya: pertama, Pranata Ibadah. Pranata peribadatan merupakan norma-norma dalam memenuhi kebutuhan manusia, sebagai hamba (‘abd), dalam melakukan hubungan dengan Allah Swt. Secara langsung yang dilakukan dengan tata cara dan upacara tertentu, yang dalam wacana fiqh disebut fiqh ibadah. Untuk memenuhi kebutuhan itu dilakukan penataan, yang meliputi persyaratan, komponen (rukun) dan kaifiahnya.

Komponen dan kaifiah kegiatan peribadatan antara lain shalat, saum, haji dan umrah bersifat tetap, namun terdapat nuansa dan keragaman dalam pelaksanaannya, menurut aliran fiqh (madzhab). Pranata peribadatan itu sangat dekat dengan keyakinan (akidah), dan otoritas ulama madzhab sangat dominan. Secara praktis penyelenggaraan dan sarana peribadatan  mengalami keragaman dan perkembangan. 

Kedua, Pranata Pendidikan. Pranata pendidikan merupakan norma-norma dalam memenuhi kebutuhan sosialisasi keyakinan, nilai-nilai, dan kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Selanjutnya, sosialisasi itu meliputi informasi-informasi baru dan berbagai jenis keterampilan yang dibutuhkan di dalam lingkungan keluarga (domestic affairs), sebagai pelaksanaan perintah Allah untuk menghindarkan diri dan keluarga dari api neraka (QS. Al-tahrim: 6).

Kemudian, sebagian tugas pendidikan itu diserahkan kepada masyarakat luas (public affairs). Dan kemudian berubah orientasi, menjadi upaya pengembangan potensi individual yang disiapkan untuk menjadi warga masyarakat yang berkeahlian dan berguna.

Ketiga, Pranata Keilmuan. Pranata keilmuan merupakan merupakan norma-norma untuk memenuhi kebutuhan dalam pengembangan pemahaman terhadap ayat-ayat Allah, yaitu ayat-ayat qawliyah dan ayat-ayat kawniyah. Ayat-ayat Qur’an yang pertama kali diterima Rasulullah Saw. (Q.S. al-‘Alaq:15) memberi petunjuk tentang keharusan “membaca” ciptaan Allah Swt.

Untuk memenuhi kebutuhan itu dilakukan penataan tentang sumber, subtansi, metode, dan kegunaan hasil pemahaman tersebut. Kedua jenis ayat itu dideduksi dari ayat-ayat al-Qur’an dan teks hadis; dan diinduksi dari bebagai gejala ilmiah, perilaku manusia, dan kebudayaan. Hasil pemahaman itu disebarluaskan dalam berbagai karya ilmiah, di antaranya dalam kitab-kitab fiqh dalam berbagai mazhab.

Keempat, Pranata politik. Pranata politik merupakan norma-norma dalam memenuhi kebutuhan pengalokasian nilai-nilai dan kaidah-kaidah Islam melalui artikulasi politik di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.[]

Baca juga: