“SURGA” itu bukan hanya di akhirat kelak. Jika ingin menikmati “surga dunia”, pergi dan rasakan “indah” dan “menawannya” pendidikan dayah. “Siapa yang tak mengenal tempat yang menjadi taman surga ini? Banyak orang yang menganggap bahwa dayah itu kejam, tidak ada kebebasan, tidak berwawasan luas, kuper. Bahkan ada yang beranggapan dayah adalah penampungan anak-anak yang tidak dipedulikan lagi”.

Demikian kata Teungku (Ustazah) Ikhdarina, guru sekaligus Ketua Seksi Pengajian Dayah Riadhul Mubarak Al-Idrisiyah Tanjongan, Samalanga, Selasa, 15 November 2016.

Ia menyebutkan, nikmatnya hidup dalam “surga dunia” tersebut yang memiliki banyak kekayaan ilmu agama diperlukan seluruh umat dan siap digali para santri haus akan ilmu.

“Siapa bilang dayah itu tak berwawasan. Bahkan banyak orang-orang yang berprestasi di luar sana yang berlatar belakang dayah,” ujar dara cantik nan cerdas kelahiran 2 Agustus 1994 ini.

Gadis yang sejak dari bangku TK, SD hingga SMA selalu menyabet juara umum ini melanjutkan, “Dayah itu diilustrasikan sebagai 'surga dunia'. Dan saya sangat merasakan nikmat dan indahnya mondok di dayah. Kehausan ilmu dengan pengalaman-pengalaman baru. Sungguh sangat berbahagia”.

Ikhdarina sejak tahun 2009 sudah mengenal sebuah dayah di “Kota Santri” Samalanga. Hidupnya berpindah-pindah tempat, lahir di Lhokseumawe sekarang beralamat di Pidie Jaya.

Alhamdulillah, dengan usaha dan doa baik orang tua, guru dan lainnya, saya mampu mencapai beberapa prestasi, mulai di TK Permata Hati PT. KKA peringkat pertama, di SD Swasta PT. KKA (Aceh Utara) dan SD Negeri 13 Lhokseumawe, juara mengarang cerpen antarsekolah, juara umum di MTsN Trienggadeng (Pidie Jaya) dan MTsN Dewantara (Aceh Utara) dan beberapa kali juara lainnya,” katanya.

Menurutnya, kepuasan intelektual laksana mengarungi lautan yang luas. Juara dalam pendidikan jenjang formal terasa belum lengkap apabila di bangku dayah tidak dapat dibuktikan.

“Juara di dayah juga tidak kalahnya dengan di lembaga (pendidikan) formal, dari juara kelas sejak kelas mubtadi hingga aliyah,” ujar Ikhdarina.

Ia menceritakan, sejak tahun 2009 dirinya meneguhkan sikap untuk melanjutkan pendidikan di dayah. “Mulanya alasan saya mondok di dayah adalah untuk membuktikan pada orang-orang bahwa anggapan negatif mereka tentang dayah itu salah. Takdir membawa saya untuk memilih dayah ini, di samping melanjutkan pendidikan SMA juga,” ulas gadis ini.

Ikhdarina mengatakan, memilih mondok di dayah tidak menyisakan penyesalan, bahkan tumbuh rasa tidak ingin berpisah.

“Di sana kita belajar tentang pelajaran dayah pada umumnya, di antaranya fiqah, nahwu, saraf, dan lain-lain. Selain itu saya belajar tentang hidup bersosial, interaksi sosial dengan penuh etika di kedepankan, tidak lari dari masalah, dan yang paling penting adalah kesabaran. Semangat jihadillah benar-benar di terpa di dan di ajarkan bukan hanya teori saja,” lanjutnya.

Ikhdarina berharap para generasi muda Aceh terus berjuang dalam menuntut ilmu dan memperbaiki diri. “Harapan saya ke depan anak bangsa ini menuntut ilmu bidang agama khususnya dayah, di samping ilmu lainnya juga untuk saling melengkapi. Dan tentu nawaitu lillah harus ditanam sejak awal menuntut untuk memperoleh hasil yang lillah (karena Allah) pula dan indah pada masanya nanti,” pesan gadis yang cinta ilmu dan ulama ini.[]