JAKARTA – MER-C Indonesia melayangkan surat terbuka kepada Presiden RI, Menteri Luar Negeri RI, Ketua MPR RI, Ketua DPR RI, Dir. Timur Tengah Kemlu RI, Dir. HAM dan Kemanusiaan Kemlu RI, dan Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen MPR RI.
Dalam surat terbuka pada Ahad, 28 Desember 2024 itu, Ketua Presidium MER-C Indonesia, Dr. dr. Hadiki Habib dan para anggota, mengungkapkan hampir 90 hari sistem layanan kesehatan di Gaza Utara mengalami tekanan. Mulai dari pembatasan tim medis internasional, pengurangan suplai logistik medis dan bahan bakar hingga yang terakhir masif terjadi dalam sepekan terakhir adalah pemaksaan pemindahan pasien dan staf medis yang dibarengi penyerangan langsung terhadap RS Kamal Udwan dan RS Al Awda.
“Dalam kurun waktu tersebut, tidak terdengar nada protes dari para pemimpin internasional, apalagi pemimpin negara-negara Muslim. Berkali-kali teriakan memohon intervensi internasional disampaikan oleh Kementerian Kesehatan di Gaza dan direktur RS Kamal Udwan sendiri, dr. Husam Abu Safiya, namun hanya seperti bisikan angin malam di musim dingin semata”.
Bagi Indonesia, kata Hadiki Habib, tekanan militer terhadap sistem kesehatan di Gaza Utara juga berarti ancaman terhadap RS Indonesia. Dalam sejarahnya, RS Indonesia adalah sumbangsih terbesar masyarakat Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina, yang pada akhirnya menjelma menjadi tulang punggung sistem kesehatan di Gaza Utara.
“Sebagai lembaga yang konsisten mengirimkan tim medis ke Jalur Gaza, kami menyaksikan bagaimana pasien dan staf medis harus bertahan di bawah ancaman perang dan di saat yang sama melawan penyakit yang diderita,” ungkapnya.
Menurut Hadiki Habib, dalam tiga bulan terakhir kondisi semakin sulit, tidak hanya berdampak terhadap pelayanan namun juga kesehatan mental seluruh pekerja kesehatan yang berada di RS. “Karenanya, kami berharap kepada Bapak-Bapak yang terhormat, dengan posisi dan wewenang yang dimiliki saat ini, untuk memprotes keras invasi militer Israel terhadap sistem kesehatan di Gaza Utara yang merusak infrastruktur RS dan membunuh para pekerja kesehatan didalamnya saat bertugas”.
“Kami berharap, suara Bapak-Bapak yang mewakili 200-an juta masyarakat di Indonesia yang mendukung kemerdekaan Palestina, akan memberikan dorongan dan inspirasi bagi pemimpin dunia lainnya agar mau bersuara dan memberikan tekanan kepada pemerintah Israel agar menghentikan penyerangan terhadap fasilitas kesehatan yang merupakan pelanggaran terhadap International Humanitarian Law,” ujar Hadiki Habib.
MER-C menilai keterlambatan dalam menyuarakan masalah ini, tidak hanya berpotensi pada penghancuran sistem kesehatan, namun dalam skala yang lebih besar merupakan bagian dari genosida terencana dan sistematis.
“Mari selamatkan saudara kita di Gaza, Palestina dari upaya penghilangan paksa eksistensi mereka dari muka bumi”.[](red)




