Rezeki merupakan pemberian Allah Swt. kepada hamba-Nya. Manusia dibebankan usaha ataupun ikhtiar untuk mendapatkan rezeki. Namun yang namanya usaha itu bermacam corak dan bentukya. Salah satu di antaranya dengan memperbanyak wirid istigfar.
Nabi Muhammad saw. menunjukkan bahwa memperbanyak istigfar merupakan salah satu kunci rezeki. Sebuah hadis berbunyi: “Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” (HR. Ahmad).
Mengomentari zikir “istigfar”, Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menganjurkan istigfar (memohon ampun) kepada setiap orang yang mengadukan kepadanya tentang kegersangan, kefakiran, sedikitnya keturunan dan kekeringan kebun-kebun.
Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwa ia berkata : “Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah! Yang lain lagi berkata kepadanya, ‘Do’akanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak! maka beliau mengatakan kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!”.
Kita mengetahui bahwa aliran rezeki itu telah ditentukan. Biarpun demikian maka diperlukan dorongan atau pelicin. Demi ketertiban dan kelancaran rezeki, wirid istigfar yang bisa dibaca sambil apa saja tanpa syarat sangatlah menolong. Dalam pengertiannya, tidak perlu repot mencari tips aneh-aneh apalagi datang ke dukun dan sebagainya.
Ini sebagaimaan diungkapkan oleh Syekh Abdul Wahhab As-Sya’roni dalam kitab Al-Minahus Saniyyah mengutip hadis Rasulullah saw., “Siapa saja mengekalkan bacaan istigfar, niscaya Allah jadikan baginya sebuah jalan keluar di tengah kesempitan dan sebuah kelonggaran di tengah kesumpekan; dan Allah kucurkan rezeki kepadanya dari jalan yang ia tidak perhitungkan.”
Menyokong pembahasan di atas dalam riwayat lain disebutkan: “Maka Ar-Rabi’ bin Shabih berkata kepadanya, ‘Banyak orang yang mengadukan macam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk ber-istighfar’. Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, ‘Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh berbunyi; “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (Nuh 10-12)
Namun demikian, istigfar sangat dituntut di pagi hari, petang, permulaan malam, dan malam tua. Tentunya tanpa harus menimbang rezeki seret atau tidak, terpeleset dalam dosa atau pun tidak. Selain itu, istigfar perlu dibaca untuk meredam tinggi hati seseorang tiap kali selesai beramal saleh.
Syekh Abdul Wahhab As-Sya’rani menyebutkan bahwa para ulama Arifbillah menyepakati anjuran istigfar usai beramal saleh. Dalam riwayat, para sahabat bercerita bahwa Rasulullah saw. beristigfar tiga kali tiap selepas sembahyang wajib. Maksudnya, menetapkan syariat istigfar usai beramal bagi umatnya sekaligus mengingatkan akan ketidaksempurnaan ibadah mereka.
Beranjak dari itu perbanyaklah istigfar dan usahakan tanpa harus memandang sebagai wirid menambah rezeki, tetapi semata-mata untuk meminta ampun kepada Allah Swt. Niscaya manakala dosa telah berkurang tentu saja pintu rezeki akan semakin terbuka.[]


