BANDA ACEH – Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia priode 2008-2013, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD., mengisi kuliah umum di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), di gedung AAC Dayan Dawood, Senin, 24 Juli 2017. Kuliah umum itu dengan tema Mengawal Ideologi Negara Melawan Radikalisme.
Mahfud menjelaskan, sebelum memahami bahaya radikalisme, penting untuk mengetahui terlebih dahulu bagaimana ideologi negara ini yaitu Pancasila dibentuk. Karena, menurut Mahfud, Pancasila adalah produk ijtihad para tokoh Islam yang menginginkan bangsa ini bersatu. Dengan mempertimbangkan tiga hal yaitu negara adalah fitrah untuk memanusiakan manusia (beribadah), kaum Muslim sudah ikut bermusyawarah sehingga lahir Darul Ahdi, dan hukumnya elektisitas dari nilai-nilai yang subtansif.
Inilah yang harus kita ramu dalam diri kita sebagai kader bangsa. Oleh sebab itu, saudara paham negara ini bisa merdeka karena punya pengikat, yaitu idiologi negara Pancasila. Islam bisa menerima hal tersebut karena Islam tidak mendapat tekanan apapun atau tidak diskriminasi, kata Mahfud, dikutip dari siaran pers dikirim Humas Unsyiah kepada portalsatu.com.
Mahfud juga menjelaskan bagaimana Islam bisa menerima Pancasila. Mengutip kalimat Nurkhalis Madjid, ia mengatakan, dalam Pancasila ada tiga hal yang sesuai dengan prinsip Islam yaitu mempertemukan kesamaan (kalimatun sawa), kesatuan ketuhanan (ummatan wahidatan), dan lurus tapi toleran (Al hanafiyyah Al Samhah).
Menurut Mahfud, radikalisme tidak dapat diterima di Indonesia karena mengancam solidaritas antarsesama anak bangsa. Sebab radikalisme secara definisi berarti membongkar secara total atas sistem yang telah berlaku. Radikalisme juga adalah bentuk pengkhianatan terhadap pemimpin bangsa.
Jadi radikalisme itu harus dilawan karena selanjutnya akan diikuti aksi teror, tegas Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia ini.
Rektor Unsyiah Prof. Dr. Samsul Rizal, M. Eng., mengatakan, kuliah umum seperti ini sangat penting bagi masyarakat Aceh khususnya para mahasiswa, agar mereka bisa memahami ideologi negara dengan baik, sehingga benih-benih radikalisme tidak muncul di Aceh. Apalagi Aceh punya riwayat konflik bersenjata selama 30 tahun.
Tapi kini kita bisa melihat secara langsung. Contohnya, Pilkada Aceh yang lebih aman dari Jakarta dan provinsi lain. Inilah berkah perdamaian, dan semoga rasa aman seperti ini bisa terus berlanjut, ujar Rektor Samsul.
Hadir dalam kuliah uUmum ini para Wakil Rektor Unsyiah, Staf Ahli Gubernur Aceh, Kapolda Aceh, Pangdam Iskandar Muda, Kajati Aceh, dan bankir asal Aceh Adnan Ganto.[](rel)



