BANDA ACEH – Mantan anggota tim perunding GAM, Bakhtiar Abdullah, mengatakan, perdamaian Aceh menjadi pelajaran nyata bagi dunia. Ratusan mahasiswa dan akademisi dari berbagai negara datang ke Aceh untuk belajar tentang Aceh dan konfliknya.

“Kita berharap kepada para pihak untuk segera menyelesaikan tanggung jawab yang disepakati dalam MoU Helsinki,” ujar Bakhtiar Abdullah kepada para wartawan usai peringatan 13 tahun perdamaian Aceh yang digelar Pemerintah Aceh di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Rabu, 15 Agustus 2018.

Bakhtiar Abdullah menilai saat ini masih ada tanggung jawab pemerintah yang belum diselesaikan dengan baik, seperti para korban konflik belum mendapatkan hak mereka.

Selain itu, Bakhtiar Abdullah berharap Pemerintah Aceh agar mengambil tanggung jawab yang besar untuk memelihara perdamaian ini. Pihaknya pun berkomitmen untuk mendukung pemerintah yang sah. “Harus melibatkan ulama dalam pembangunan Aceh,” kata pria yang juga Juru Bicara GAM di Swedia ini.

Bakhtiar Abdullah turut menanggapi situasi saat ini yang sudah memasuki tahun politik yakni Pemilu 2019. “Jangan sampai kepentingan politik sesaat bisa merusak perdamaian Aceh. Harus menjaga itu,” tegasnya.

Menurut dia, persaingan antarcalon anggota legislatif di Aceh harus mendasarkan kaidah akhlak, tidak mengadu domba, dan tetap menjaga kekompakan. “Perbedaan pilihan dalam Pemilu 2019 jangan sampai merusak persatuan rakyat Aceh,” ujar Bakhtiar Abdullah.

Bakhtiar Abdullah mengaku sangat bersyukur perdamaian Aceh bisa terjaga hingga saat ini, dan diharapkan tetap terawat dengan baik selamanya.”Kita berharap pula atas terbentuknya perdamaian Aceh selama ini agar ke depan Pemerintah Aceh terus menguatkan hubungan komunikasi dengan berbagai pihak,” katanya.

Dia berharap Pemerintah Aceh turut melibatkan unversitas-universitas di Aceh sebagai upaya untuk memperkenalkan kepada para generasi muda, “Bahwa beginilah wujud perdamaian Aceh yang sudah berjalan aman, dan tentram”.[]