BANDA ACEH – Perkembangan neraca transaksi berjalan Provinsi Aceh sangat dipengaruhi komponen neraca perdagangan lantaran masih minimnya kegiatan industri jasa di Aceh.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh, Zainal Arifin Lubis, mengatakan, pada tahun 2017 neraca perdagangan Aceh mengalami net ekspor senilai USD 107,58 juta. Angka itu meningkat jika dibandingkan tahun 2016 net ekspor USD 27,07 juta, dan tahun 2015 defisit neraca perdagangan USD 9,90 juta.
“Peningkatan surplus neraca perdagangan Aceh itu terutama bersumber dari peningkatan ekspor berbagai komoditas non-migas. Kalau khusus untuk tahun 2017, kita (Aceh) mengalami net ekspor yang seluruhnya bersumber dari ekspor berbagai komoditas non-migas,” kata Zainal Arifin kepada para wartawan saat coffee morning di 3 in 1 Coffee Shop, Banda Aceh, Jumat, 21 September 2018.
Zainal menjelaskan, sepanjang tahun 2017 tidak ada komoditas migas yang diekspor. Kondisi itu berdampak pada defisitnya neraca perdagangan Aceh di sisi migas. Sementara dari sisi ekspor non-migas, komoditas batu bara dan kopi menjadi lokomotif utama akselerasi ekspor Aceh sepanjang 2017.
Menurut Zainal, kedua komoditas tersebut memiliki proporsi hampir 70 persen dari total ekspor Aceh. Sementara sisanya ditopang oleh ekspor buah-buahan 11,23 persen, bahan dan produk kimia 8,08 persen, minyak atsiri 6,54 persen, komoditas ikan dan udang 2,72 persen, dan komoditas lainnya 2,46 persen.
“Untuk impor, kebutuhan akan mesin-mesin 46,26 persen, kapal laut 24,90 persen, dan komoditas migas dalam bentuk minyak aspal 16,48 persen mendominasi komposisi impor Aceh. Peningkatan impor aspal itu seiring dengan meningkatnya berbagai kegiatan pembangunan fisik di akhir tahun 2017,” ujar Zainal.
Zainal menambahkan, melihat dari struktur ekspor, net ekspor Aceh masih didominasi berbagai komoditas primer. Berbagai komoditas tersebut dapat terlihat dari ekspor kopi, buah-buahan serta ikan non-olahan.
“Aceh memang mengalami net ekspor, tetapi masih didominasi oleh komoditas berbasis agro ataupun produk primer, dan hasil pertambangan dengan nilai pusat informasi wisata di lokasi strategis, khususnya bandara, dan iklan parawisata di media massa,” ujar Zainal.
Uuntuk itu, kata Zainal, perlu adanya perbaikan akses dan pembangunan jalan seperti di daerah Sabang, Aceh Tengah, Aceh Singkil, dan penambahan jumlah kapal di Sabang, Singkil, Simeulue serta rute penerbangan dari Singkil dan Aceh Tengah.[]



