LHOKSUKON – Bupati Aceh Utara, Muhammad Thaib, menyatakan banjir kali ini lebih dahsyat dibadingkan tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, selain merendam hampir semua kecamatan di Aceh Utara, banjir tersebut mengakibatkan beberapa jembatan rusak, dan Bendung Krueng Pase jebol.
“Banjir kali ini memang dahsyat dan Pemkab sudah menetapkan Aceh Utara darurat bencana,” kata Muhammad Thaib alias Cek Mad kepada wartawan di lokasi banjir Lhoksukon, Senin, 7 Desember 2020.
Cek Mad menyebut telah menginstruksikan kepada seluruh kepala SKPK, Camat dan Keuchik agar tanggap bencana alam tersebut. “Sejak hari pertama banjir pada Jumat (4 Desember 2020), semua tim di lapangan fokusnya mengevakuasi warga di masing-masing kecamatan yang terjebak banjir. Itu dilakukan tim BPBD dan SAR, Basarnas, TNI, Polri, PMI maupun relawan lainnya demi kemanusiaan,” ujarnya.
“Sekarang kita telah menyalurkan logistik kepada pengungsi atau korban banjir. Sistem yang kita lakukan supaya merata, itu tidak diantarkan oleh petugas BPBD ke titik pengungsi. Akan tetapi setiap tim yang ada di kecamatan menjemput atau mengambil logistik tersebut ke gudang atau posko utama di BPBD, Landeng, Lhoksukon,” kata Cek Mad.
Terkait jebolnya Bendung Krueng Pase, Bupati Aceh Utara mengharapkan bantuan pemerintah pusat. “Untuk perbaikan Bendungan (Bendung) Krueng Pase itu wewenangnya sumber dana dari APBN”.
“Jika itu tidak ditangani segera maka sekitar 8.500 hektare sawah masyarakat di Aceh Utara tidak bisa digarap,” ujar Cek Mad.[]


