BANDA ACEH – Ketua Front Pembela Islam (FPI) Aceh, Tgk. Muslim At-Thahiri, menyayangkan terjadinya kasus pelecehan seksual terhadap santri di Lhokseumawe, terlebih korbannya masih di bawah umur. Pasalnya, kasus yang menjerat salah seorang oknum pimpinan dan guru pesantren sebagai tersangka itu menimbulkan efek negatif bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan pesantren. Selain itu, dikhawatirkan muncul efek negatif terhadap tokoh agama.
“Apabila cukup bukti (pelecehan seksual terhadap santri), maka kita harap (kepada penegak hukum agar tersangkanya) bisa dihukum sesuai dengan syariat Islam,” ujar Tgk. Muslim At-Thahiri dalam keterangannya diterima portalsatu.com/, Sabtu, 13 Juli 2019, siang.
Tgk. Muslim mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga dunia pendidikan khususnya pendidikan dayah. “Karena bila pendidikan dayah sudah hancur di mana lagi harapan yang bisa kita taruhkan untuk mencetak generasi yang berakhlakul karimah dan berakidah Ahlussunnah wal jamaah. Kita sadari atau tidak Islam masih bertahan sampai sekarang di Serambi Mekkah, itu tidak terlepas berkat dayah dan dengan kerja keras ulama yang ikhlas. Kita tidak bisa bayangkan bila dayah di Aceh tidak ada, mungkin Aceh sudah hancur di dalam segala bidang,” kata Tgk. Muslim.
Untuk itu, lanjut Tgk. Muslim, wajib bagi semua umat Islam menjaga nama baik dayah, dan juga menyelamatkannya dari upaya musuh Allah SWT yang ingin menghancurkan Islam dengan menghancurkan pendidikan Islam.
“Mudah-mudahan musuh kita tidak berhasil menghancurkan dunia dayah atau pesantren dengan berbagai strategi mereka. Jangan gara-gara ada oknum yang bejat, serangan diarahkan kepada dunia dayah, cemoohan dialamatkan kepada dunia dayah, karena apapun instansi pasti ada oknum. Kata orangtua, jangan gara-gara tikus, lumbung-lumbungnya dibakar, tapi singkirkan tikusnya dan selamatkan lumbungnya,” ujar Tgk. Muslim.
Tgk. Muslim mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk tidak ragu kepada dunia dayah akibat ulah salah seorang oknum. “Sambil tetap berdoa agar Allah SWT selamatkan dayah dari berbagai tipu daya, baik dari iblis kalangan jin atau kalangan manusia,” katanya.
“Kami juga mengharapkan kepada para teungku atau dewan guru kami dan saudara kami, agar dapat menjaga dayah dari (pengaruh) uang haram dan syubhat supaya dayah berkat dan selamat. Dan juga agar pimpinan lembaga Islam untuk dapat menjaga godaan syaithan dengan memecahkan syahwatnya dengan hal yang dibolehkan oleh Allah, yaitu, nikah dari satu sampai empat bila perlu (poligami) jangan sampai terjadi hal-hal yang memalukan,” ungkap Tgk. Muslim.
Tgk. Muslim juga berharap kepada pemerintah untuk menjaga dunia dayah dengan menjaga wibawa ulama dan guru-guru dayah. “Penguasa harus datang kepada ulama dan bukan ulama datang kepada penguasa. Kalau pemerintah ikhlas ingin membantu dayah datanglah ke dayah atau pesantren dan bantulah apa yang perlu dibantu tanpa harus pihak dayah mondar mandir dari dinas ke dinas, dari kantor ke kantor, sehingga wibawa ulama dayah/teungku dayah hilang. Untuk apa banyak pegawai di dinas terkait kalau bukan untuk menangani tugas masing-masing sesuai dengan kedinasan tersebut,” katanya.
Khusus untuk menangani dayah, menurut Tgk. Muslim, di Aceh ada Dinas Pendidikan Dayah. “Maka pihak dinas ini harus ke lapangan untuk melihat dan menilai yang mana dan perlu dibantu, serta apa yang perlu dikerjakan, dan bantulah tanpa harus para teungku dayah disuruh mondar mandir di kantor, karena mereka (teungku dayah) juga manusia dan lama-lama menjadi sibuk sehingga ada satu dua yang tidak tahan godaan uang, maka kalau uang sudah jadi tuan hancurlah dunia ini,” ujar Tgk. Muslim.[]



