BANDA ACEH – Pengamat Politik Universitas Malikussaleh (Unimal), Taufik Abdullah, menilai Capres 01, Jokowi berpeluang menang di Aceh jika dilihat dari sebaran alat peraga kampanye.
“Mesin politik, relawan dan simpul-simpul timses Jokowi semakin bergerak cepat. Tiga minggu terakhir tampak getaran kemenangan Jokowi menguat, apalagi sosok Irwandi Yusuf ikut ditempelkan pada baliho, spanduk dan banner,” ujar Taufik Abdullah saat diwawancarai portalsatu.com/, Kamis, 28 Maret 2019, malam.
Ironisnya, satu hari pascatuntutan Jaksa Penuntut Umum yang memohon agar majelis hakim memvonis Irwandi Yusuf 10 tahun pidana penjara, datang pula Jokowi berkampanye di Lhokseumawe. “Amatan saya, tidak muncul aksi progresif, aksi protes dan tuntutan kepada Presiden Jokowi agar segera membebaskan Irwandi. Ada demo sejumlah mahasiswa Unimal, tapi bukan menuntut pembebasan Irwandi Yusuf. Mereka mem-presure sejumlah kebijakan (pemerintahan) Jokowi di Aceh dinilai belum berjalan sebagaimana mestinya,” kata Taufik.
Taufik menyebutkan, jika muncul protes dari relawan dan loyalis Irwandi Yusuf sesungguhnya sangat beralasan. Ini karena, kata dia, fakta persidangan bertolak belakang dengan tuntutan jaksa. “Ironisnya lagi dalam temu ramah di Hotel Lido Graha (Lhokseumawe), timses yang notabene timses Irwandi-Nova, tidak menyinggung sedikitpun tentang kondisi yang sedang menimpa Gubernur (nonaktif) Aceh itu,” ujar dia.
Menurut dia, masyarakat Aceh, khususnya pemilih setia Bang Wandi—sapaan akrab Irwandi Yusuf—berharap Gubernur nonaktif Aceh itu dibebaskan. “Karena memang dari ratusan saksi yang dihadirkan tidak mengindikasikan adanya korupsi. Sebab itu, ekspresi dan sentimen masyarakat Aceh akan memilih Jokowi, dengan harapan gubernur mereka bebas. Itu yang saya amati,” kata Taufik.
Taufik melanjutkan, Bang Wandi Effect untuk keterdukungan Jokowi besar sekali. “Toh tuntutan 10 tahun penjara membuat masyarakat sedikit kecewa. Mungkin ini penyebab massa kampanye sulit dikerahkan ke lapangan terbuka, sehingga kampanye digelar di Aula Hotel Lido Graha,” ujarnya.
“Ulama sebagai timses Jokowi juga setahu saya tidak menyuarakan kondisi terakhir Gubernur Aceh yang nahas itu,” kata Taufik.
Taufik menilai, kondisi ini berpotensi suara Jokowi sebagaimana diharapkan capres petahana itu sebanyak 65 persen sepertinya tidak akan tercapai. “Keterdukungan Jokowi sebelumnya trennya naik, bisa jadi akan beralih (eksodus) untuk memilih Prabowo. Sekali lagi, ini karena masyarakat Aceh kecewa dengan kondisi terakhir gubernur mereka terancam pidana 10 tahun,” ujarnya.
Lantas, apakah Jokowi bisa memengaruhi jalannya putusan hakim? “Saya pikir tidak. Jika melihat kasus Rommy Ketua (Umum) PPP selaku partai pengusung, dan bahkan orang kepercayaan terdekatnya selama ini, toh Presiden Jokowi tampak tidak mengintervensi apapun. Dalam kasus Gubernur Aceh memang beda tentunya, tanpa campur tangan Jokowi sebagai capres sekaligus presiden, seyogyannya harus dibebaskan jika melihat fakta-fakta persidangan,” kata Taufik.
“Jika pengadilan nantinya ternyata memutuskan tidak ada alasan menghukum Bang Wandi atas gratifikasi korupsi yang dituduhkan itu, maka saya yakin Aceh akan mendulang suara besar,” ujar dosen Ilmu Politik Unimal itu.
Menurut Taufik, Jokowi akan menang di Aceh sangat mungkin. “Kita harus ingat, mesin politik Bang Wandi cukup efektif bekerja pada Pilkada 2017 lalu,” katanya.
Selain itu, Taufik berpendapat bahwa masyarakat Aceh melihat Irwandi Yusuf kena OTT sangat bermuatan politis. Irwandi dinilai masyarakat menjadi target politik yang tidak jelas ketimbang upaya KPK memberantas korupsi. Penilaian ini, kata dia, sudah menjadi beban psikologis yang tertanam kuat dalam benak masyarakat.
Di pengujung wawancara, Taufik berpendapat, jika Bang Wandi bebas sebelum hari pencoblosan 17 April, dapat dipastikan kemenangkan Jokowi bakal tidak terbendung di Aceh.[]





