BIREUEN – Majelis Zikir Al-Huda Ratib Al At-Thas menggelar silaturahmi dan lepas sambut pimpinan majelis zikir tersebut di Gampong Meunasah Dayah, Matangglumpang Dua, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Kamis, 22 November 2018, malam.

Adapun pimpinan Majelis Zikir Al-Huda Ratib Al At-Thas yang baru adalah Tgk. Mursalin Sulaiman menggantikan pimpinan sebelumnya, Tgk. Samsul Barmawi yang pindah ke Meulaboh, Aceh Barat, untuk mengembangkan majelis zikir tersebut. Majelis Zikir Al-Huda Ratib Al At-Thas, Bireuen, itu berada di bawah Forum Majelis Taklim Sirul Mubtadin Aceh.
 
Dalam silaturahmi tersebut, selain ratusan jamaah Majelis Zikir Al-Huda Ratib Al At-Thas, turut hadir Pimpinan Forum Majelis Taklim Sirul Mubtadin Aceh, Abi Razali, Ketua MPU Bireuen Tgk. H. Nazaruddin, Pimpinan Dayah Alwaliyah Tanoh Mirah Tgk. Hafid, dan anggota DPRA, Tgk. H. Muharuddin, yang merupakan salah satu penggagas terbentuknya Forum Majelis Taklim Sirul Mubtadin Aceh sejak tahun 2003.

Abi Razali dalam sambutannya mengatakan, Forum Majelis Taklim Sirul Mubtadin Aceh bertujuan memperkuat ukhuwah (persaudaraan) dan silaturahmi seluruh ulama Aceh. Selain itu, menjadi penyemangat dan motivasi bagi masyarakat termasuk generasi muda Aceh dalam membangkitkan syiar Islam.

Menurut Abi Razali, jamaah Forum Majelis Taklim Sirul Mubtadin Aceh saat ini mencapai 170.600 orang, termasuk di luar Aceh, seperti Padang, Batam hingga Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand.

Sementara itu, Tgk. Muharuddin dalam sambutannya menyatakan dirinya mendukung penuh kegiatan pengajian dan zikir yang dilaksanakan di seluruh Aceh. Di antaranya, zikir yang terus digalakkan Forum Majelis Taklim Sirul Mubadin Aceh dan Majelis Zikir Al-Huda Ratib Al At-Thas, Bireuen.

Tgk. Muharuddin akrab disapa Tgk. Muhar menceritakan, saat dirinya masih kecil, masyarakat termasuk kaum muda di Aceh sangat antusias mengikuti pengajian dan kegiatan syiar Islam lainnya. Padahal, di masa silam belum ada listrik serta sarana dan prasarana atau fasilitas publik masih sangat terbatas.

“Dulu, di rumah-rumah hanya ada lampu teplok. Saat keluar rumah, warga menggunakan suwa atau obor sebagai penerang di jalan. Namun, semangat masyarakat, termasuk pemuda dan pemudi waktu itu sangat luar biasa untuk shalat berjamaah di meunasah dan masjid, juga mengikuti berbagai kegiatan syiar Islam,” kenang Tgk. Muhar.

Oleh karena itu, Tgk. Muhar berharap generasi muda Aceh zaman sekarang dapat mencontoh kaum muda masa lampau dalam memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah dan ibadah lainnya seperti pengajian maupun zikir.

“Zaman sekarang setiap rumah sudah ada penerangan lampu listrik, balai-balai pengajian, meunasah dan masjid terang benderang. Maka mari kita dukung penuh dengan meramaikan majelis pengajian dan zikir di tengah-tengah masyarakat. Ini penting  untuk membentuk akhlak, membimbing dan menyelamatkan generasi Aceh dari segala pengaruh negatif di zaman yang serba canggih dan modern ini,” ujar Tgk. Muhar.

Menurut Tgk. Muhar, dengan semakin aktifnya kegiatan pengajian dan zikir di tengah masyarakat Aceh, ia merasa optimis akan terbentuk generasi cerdas yang islami. Sehingga akan melahirkan calon-calon pemimpin masa depan yang taat kepada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, untuk membawa Aceh mencapai kejayaan seperti masa silam.[](rel)