Kamis, Juli 25, 2024

BI Lhokseumawe Gelar ToT...

LHOKSEUMAWE - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe bersama Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota...

PPK Sawang: Uang Operasional...

ACEH UTARA - Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Sawang di bawah Komisi Independen Pemilihan...

Cari HP di Bawah...

Mencari HP dengan harga terjangkau namun tetap memiliki performa yang handal memang bisa...

Siswa Diduga Keracunan Selepas...

SIGLI - Jumlah siswa yang dirawat akibat dugaan keracunan setelah konsumsi nasi gurih...
BerandaIni Kata Wakil...

Ini Kata Wakil Rektor IAIN Lhokseumawe Soal Cut Winda Sari Penghafal Alquran 20 Juz

LHOKSEUMAWE – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe menanggapi pemberitaan terkait Cut Winda Sari (18), penghafal 20 juz Alquran, yang berhenti kuliah lantaran faktor ekonomi keluarganya.

Wakil Rektor II IAIN Lhokseumawe, Dr. Darmadi, M.Si., mengatakan, saat semester pertama, Cut Winda Sari sempat kuliah delapan kali pertemuan. Jadi, kata Darmadi, ujian mitem dan ujian final tidak diikuti lagi, karena berdasarkan keterangan Cut Winda kepada Ketua Prodi Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah bahwa ia tidak mampu memikirkan dua bidang dijalankan, yaitu kuliah sekaligus menghafal Alquran.

“Kemudian pada saat pendaftaran ulang semester kuliah (pembayaran SPP) pada awal Februari yang berakhir pada 22 Februari 2019, bahkan diperpanjang sampai 28 Februari 2019. Tetapi pada saat itu tidak ada laporan bahwa dia (Cut Winda) tidak ada biaya. Biasanya mahasiswa kita kalau ada yang tidak ada biaya melaporkan ke pihak prodi, fakultas maupun biro kampus, sedangkan Cut Winda mengapa tidak melaporkan hal tersebut,” kata Darmadi kepada portalsatu.com, Jumat, 8 Maret 2019.

Menurut Darmadi, pada Selasa, 5 Maret 2019 lalu, Cut Winda mendatangi kampus sekaligus menemui Ketua Prodi Bahasa Arab untuk menanyakan apakah masih bisa mendaftar ulang kuliah. Kata dia, pihaknya pun memberikannya dan memang ia memiliki iktikad baik untuk mendaftar kuliah lagi. “Karena Cut Winda sebelumnya sempat aktif kuliah hanya dua bulan. Sementara pada saat proses pembayaran SPP beberapa waktu lalu, itu tidak ada pengaduan bahwasannya tidak cukup biaya,” ungkapnya.

Darmadi menambahkan, karena ada keinginan dari Cut Winda, yang menanyakan apakah masih bisa daftar ulang kuliah, dan secara pertanggungjawaban keuangan, maka sudah disuruh mendaftar kembali. Sedangkan untuk beasiswa hafiz/hafizah, kata Darmadi, sebelumnya Cut Winda tidak pernah mendaftar, hal itu sudah dicek oleh pihak yang membidangi kemahasiswaan. 

“Kalau memang ada kemampuan di bidang hafiz dipersilakan mendaftar, kemudian kita seleksi apa benar 20 juz (Cut Winda) bisa menghafal Alquran sebagaimana diketahui bersama. Tetapi  alasannya (berhenti kuliah) bukan dikarenakan hal dimaksud (persoalan biaya). Alasan dia itu tidak sanggup memikirkan dua bidang. Jadi, dia lebih konsentrasi pada LPTQ sehingga tidak masuk kuliah lagi,” ujarnya.

“Intinya, kalau memang Cut Winda ingin melanjutkan kuliah silakan kuliah lagi. Jika memang punya potensi hafiz nanti silakan mendaftar pada beasiswa hafiz, tentunya akan diseleksi,” kata Darmadi.

Diberitakan sebelumnya, Cut Winda Sari (18), kini mampu menghafal 20 juz Alquran. Ironisnya, hafizah di Lhokseumawe ini harus berhenti kuliah lantaran faktor ekonomi keluarganya.

Gadis kelahiran 11 Oktober 2000 itu tinggal di Dusun Sanggamara, Gampong Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Ayahnya, TM. Murdani (48), nelayan yang mencari ikan di laut menggunakan boat kecil. Namun, sebulan terakhir Murdani tidak melaut karena boat-nya rusak dan ia dalam kondisi sakit-sakitan. Sedangkan ibunya, Mulyani, hanya ibu rumah tangga.

Ditemui portalsatu.com di rumahnya, Senin, 4 Maret 2019, Cut Winda menceritakan, mulanya ia belajar membaca aksara Arab saat menjadi siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Banda Masen, Kecamatan Banda Sakti. Ia kemudian masuk Madrasah Tsanawiyah (MTs) Keude Aceh, Kecamatan Banda Sakti. Tamat MTs, Cut Winda melanjutkan pendidikan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Lhokseumawe. Setelah lulus MAN, Cut Winda kuliah mengambil Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe.

Anak kedua dari tiga bersaudara itu mengaku menghafal Alquran sejak tahun 2012. Ia bisa menghafal Alquran setelah bergabung di Lembaga Tahfizh Al-Quran (LTQ) Ibnu Abbas, Gampong Uteun Bayi, Kecamatan Banda Sakti, di bawah pimpinan Ustaz Muhadar. Saat itu, ia belajar menghafal Alquran secara rutin setiap Magrib hingga usai shalat Isya. Pertama sekali, ia menghafal surah Al-Baqarah.

“Proses penghafalan Alquran membutuhkan waktu yang panjang. Mulanya, saya terinspirasi dari teman-teman hafiz, sehingga saya pun berupaya untuk mendalami Alquran. Alhamdulillah, sekarang sudah mampu menghafal Alquran 20 juz, dan saat ini masih terus pendalaman menghafal Alquran,” ujar Cut Winda.

Ketekunan Cut Winda menghafal Alquran membuatnya mendapatkan kesempatan mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) hingga meraih berbagai penghargaan sejak 2013 sampai 2018.

Cut Winda meraih juara II Cabang Hifdzil Al-Qur'an 10 juz kategori putri pada MTQ tingkat Provinsi Papua XXVII tahun 2018 di Kabupaten Nabire. Sebelumnya, ia mendapatkan piagam Sanggamara Panglima Kodam Iskandar Muda juara III MTQ kategori putri dalam rangka HUT ke-72 TNI tahun 2017, dan piagam penghargaan MTQ tingkat Provinsi Aceh XXXIII tahun 2017 di Kabupaten Aceh Timur.

Selain itu, Cut Winda memperoleh juara II MTQ cabang Tahfidhul Qur'an 10 juz yang diselenggarakan LDK Al-Furqan STAIN Malikussaleh Lhokseumawe 2016. Ia juga mendapat sertifikat peserta MTQ ke-33 tingkat Kecamatan Banda Sakti, di Masjid Jamik, Gampong Lancang Garam pada 2015.

Cut Winda menerima piagam penghargaan dari Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, sebagai peserta MTQ XXXII tingkat Kota Lhokseumawe di Kecamatan Blang Mangat tahun 2014. Ia mendapat piagam penghargaan MTQ Provinsi Aceh XXXI di Kota Subussalam 2013, dan beberapa penghargaan lainnya dalam MTQ.

“Dari prestasi tersebut, saya pernah menerima bantuan dari lembaga Muslim Aid Inggris, sejak SMP sampai SMA mendapat dana Rp300 ribu perbulan. Juga bantuan dana dari Baitul Mal Aceh Rp8 juta, dan uang hadiah dari MTQ tingkat Kota Lhokseumawe Rp1,5 juta,” kata Cut Winda.

Setelah itu, kata Cut Winda, sampai saat ini ia tidak lagi memperoleh bantuan apapun dari pemerintah. Hafizah 20 juz dari keluarga kurang mampu ini akhirnya harus berhenti kuliah karena faktor ekonomi.

Cut Winda mengaku sakarang ia aktif di Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ) Kota Lhokseumawe. Aktivitasnya saat ini mendidik para santri untuk bisa menghafal Alquran di LPTQ tersebut, baik tingkat SMP maupun SMA.

“Karena saya saat ini sudah terhenti proses perkuliahan di IAIN Lhokseumawe sejak semester pertama 2018 lalu. Akibat faktor ekonomi yang tidak memadai (kekurangan biaya) untuk melanjutkan kuliah, maka untuk mengisi keseharian saya dengan cara mengajar di LPTQ,” ungkap Cut Winda.

Cut Winda selama ini juga sering menderita sakit lambung. Ia sempat diopname dan baru keluar dari rumah sakit, beberapa hari lalu.

Dia mengaku sangat ingin bisa aktif kuliah kembali. “Tapi tidak cukup biaya,” ujar Cut Winda dibenarkan ayahnya, TM. Murdani. “Kendala saya sekarang adalah keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan tinggi, karena saya dari keluarga kurang mampu,” katanya.(Baca: Cut Winda Sari, Penghafal Alquran 20 Juz yang Berhenti Kuliah Akibat Faktor Ekonomi)[]

Baca juga: