ACEH UTARA – Sebagian warga Gampong Hagu, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, sempat mengungsi akibat banjir kembali melanda kawasan itu dua hari terakhir. Beberapa warga mengaku tidur di kantor geuchik lantaran rumah mereka terendam banjir.

“Jam setengah dua, Senin dini hari, air di dalam rumah sudah hampir setinggi dada, kami langsung bersiap-siap, jam dua akhirnya mengungsi. Lalu, Senin siang banjir sempat surut, tapi naik lagi tadi malam, sehingga kami  tidur di kantor desa. Dulu tahun 2017, kami tidur di kantor desa sampai empat malam karena banjir,” kata Anisah diamini Zainab, warga Gampong Hagu, ditemui di lokasi banjir, Selasa, 2 Oktober 2018, pagi.

Warga Hagu itu mengaku membutuhkan bantuan beras, air bersih, dan obat-obatan untuk demam dan gatal-gatal. “Bantuan belum sampai ke Gampong Hagu. Yang ada di (ibu kota) kecamatan, kami kan tidak bisa ke sana karena jauh,” kata Kari Usman, Tuha Peut Gampong Hagu.

Camat Matangkuli, Zulkifli kepada portalsatu.com/ via telepon seluler, Selasa sore, menyebutkan, kemarin (Senin) banjir merendam 22 gampong di Matangkuli. Meliputi Alue Entok, Teumpok Barat, Hagu, Alue Thoe, Cebrek Pirak, Lawang, Tanjong Haji Muda, Mee, Parang Siekureung, Baroe, Blang, Taanjong Tgk. Kari, Siren, Meuria, Pante Pirak, Leubok Pirak, Meunye Pirak, Teungoh Seulemak, Tanjong Tgk. Ali, Punti, Teupin Keube dan Trieng Teupien Keube.

“Semalam ada empat gampong yang sebagian warganya mengungsi, yaitu 18 jiwa di Gampong Hagu, 43 jiwa di Gampong Lawang, 33 jiwa di Gampong Tanjong Haji Muda dan 15 jiwa di Gampong Siren. Mereka hanya mengungsi di malam hari, tadi pagi sudah kembali ke rumah masing-masing. Untuk Gampong Lawang belum saya cek, apakah masih ada yang mengungsi atau sudah tidak ada lagi. Yang lainnya sudah pulang,” ujar Zulkifli.

Menurut Zulkifli, dari 22 gampong yang banjir, tidak semua rumah terendam. “Hingga saat ini kita tetap memantau perkembangan banjir. Terkadang sulitnya begini, tidak ada satu geuchik pun yang menghubungi saya melaporkan soal banjir. Semua geuchik harus saya tanya, barulah mereka katakan banjir dan memberikan data rumah yang terendam. Ini saya baru pulang dari Teumpok Barat, banjirnya sudah surut. Di Gampong Punti masih sebagian tergenang, termasuk lapangan bola kaki. Di Gampong Mee juga masih sebagian. Namun hari ini bisa dikatakan sudah banyak gampong, banjirnya surut,” kata Camat Matangkuli itu.

Geuchik Gampong Lawang, Sulaiman, secara terpisah via telepon seluler mengatakan, banjir yang melanda gampongnya mulai surut sejak siang tadi (Selasa). Jika kemarin (Senin) ketinggian air mencapai 1,5 meter, kini hanya di bawah 1 meter.

“Hingga tadi pagi banjirnya cukup parah, namun sejak siang tadi mulai surut. Warga yang sempat mengungsi selama dua malam juga sudah pulang ke rumahnya. Pane ek geu’eh man ka padup malam lam nyamok (Mana sanggup tidur sudah beberapa malam dalam kawanan nyamuk). Hingga semalam ada dua titik pengungsi di Lawang, di balai serbaguna dan meunasah (musala). Di sini semua rumah terendam, tidak terkecuali, namun terparah 25 Kepala Keluarga (KK),” pungkas Sulaiman. (Baca: Begini Kondisi Terkini Banjir di Aceh Utara)

Kata Wabup

Sementara itu, Wakil Bupati Aceh Utara, Fauzi Yusuf alias Sidom Peng, mengatakan, laporan ia terima dari dinas terkait, banjir melanda Matangkuli, Senin malam, tapi mulai surut pada Selasa siang. “Senin malam banjir di Matangkuli hampir satu meter. Tapi siang ini (Selasa) sudah surut,” kata Sidom Peng ditemui di Gedung DPRK Aceh Utara, Selasa sore.

Sidom Peng menyebutkan, pihak BPBD dan Dinas Sosial sudah turun ke lokasi banjir di Matangkuli. “Dinas Kesehatan melalui Puskesmas-Puskesmas juga kita arahkan untuk mendata, sehingga apabila ada masyarakat yang sakit di rumah-rumahnya, bisa cepat dievakuasi bila terjadi banjir,” ujarnya.

Laporan diterima Sidom Peng, sebagian warga yang rumahnya terendam banjir terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi pada Senin malam. “Saya masih menunggu laporan kondisi di lapangan sampai sore ini, apakah masyarakat yang mengungsi sudah kembali ke rumahnya, karena banjir sudah surut,” kata Sidom Peng.[] Cut Islamanda

Laporan Rizkita, pelajar Basri Daham Journalism Institute (BJI) Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Lhokseumawe.