LHOKSUKON Meninggalnya mekanik komunitas motor trail disapu air bah di sungai kawasan pedalaman Geureudong Pase, Aceh Utara, menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan para sahabat. Petualangan menuju Gunung Salak di perbatasan Nisam Antara, Aceh UtaraBener Meriah, menjadi akhir dari perjalanan hidup Si Om, sapaan akrab Ahmad Nur Mujib.
Korban berangkat mengendarai motor trail jenis KLX bersama 10 anggota komunitas lainnya, Selasa, 28 Maret 2017, sekitar pukul 12.00 WIB. Lima orang dari komunitas Track On Lhoksukon termasuk korban. Sementara enam lainnya merupakan anggota komunitas Lhantac Lhokseumawe.
Pada hari nahas itu, kami berangkat dari Lhoksukon, pukul 12.00 WIB. Kami mengambil start dari DStar Coffee Lhoksukon, lalu singgah di Simpang Mulieng untuk beli nasi kari kambing, ujar Ishak, 51 tahun, anggota Track On Lhoksukon kepada portalsatu.com, Kamis, 30 Maret 2017. Ishak merupakan satu dari sembilan saksi mata saat korban tersapu air bah.
Setelah membeli kari kambing, mereka berkumpul di kawasan AURI, Buket Rata, Lhokseumawe, untuk menikmati makan siang bersama. Tidak ada tanda-tanda yang aneh dari si Om, semuanya seperti biasa. Dia tidak termenung ataupun terlihat terlalu ceria, biasa saja. Usai makan, kami pun berangkat menuju Geureudong Pase dengan tujuan Gunung Salak, ujarnya.
Setiba di sungai kawasan pedalaman itu, motor yang mereka kendarai tidak bisa melintasi sungai yang memiliki lebar sekitar 25 meter itu. Jadi, kata Ishak, motor digendong dengan menyelipkan kayu yang dipanggul di bahu, seperti orang membawa parakan untuk mengantar lintoe baro (pengantin pria).
Satu per satu motor berhasil diangkat menyeberangi sungai itu. Giliran ketiga, rencananya akan dipanggul motor Ishak. “Jangan kita lewatkan dulu Pak Is, kita cuci dulu motornya, ucap si Om sambil menyiram motor Ishak untuk membersihkan lumpur yang melekat. Lalu, kayu pun dipasang ke sepeda motor lain untuk diangkat menyeberangi sungai.
Om, jika memang motor kita enggak diangkat dulu, baiknya kita jalan saja di belakang mereka yang bawa motor, ucap Ishak kala itu yang dijawab singkat si Om, jeut bang (baik bang).
Ishak dan si Om kemudian berjalan beriringan di belakang anggota lain yang memanggul motor. Kala itu, si Om berjalan di belakang Ishak.
Setiba di tengah sungai, air memang masih sedikit, tapi mengalir cukup deras. Saya sudah berjalan hingga ke daratan, sedangkan si Om naik ke atas batu besar di tengah sungai. Ia duduk di atas batu karena kelelahan. Tiba-tiba saya lihat air sungai mulai keruh dan ketinggian air pun mulai bertambah, ungkap Ishak.
Om, jangan duduk lagi di situ, cepat kemari ke darat, kata Ishak.
Hana pue Pak Is, loen istirahat siat, hek (tidak apa-apa Pak Is, saya istirahat sebentar, capek), jawab si Om.
Bek le istirahat, ie ka meutamah, meunyoe hana jak keunoe gisa blah ret deh (jangan istirahat lagi, air sudah bertambah, jika tidak menyeberang kemari, kembali ke tempat awal saja), kata Ishak lagi.
“Namun yang membuat kami terkejut dan panik, si Om menjawab, 'Loen hanjeut meulangue (saya tidak bisa berenang)'.
Waktu itu, lanjut Ishak, batu tempat pijakan si Om masih terlihat sekitar satu jengkal lagi. Dua teman di sisi seberang sungai mencoba melempar tali ke arah si Om. Kami pun panik dan menyuruhnya loncat, tapi ia tetap menjawab tidak bisa. Dan air bah pun datang menyapu si Om tanpa jejak. Ia menghilang ditelan air itu. Kami semua sempat tertegun, seolah tidak percaya dengan apa yang kami lihat, ucap Ishak.
Menurutnya, mereka berencana untuk mencari keberadaan si Om malam itu juga. Namun dilarang oleh masyarakat setempat. Tidak perlu mencari malam ini, besok pasti akan ketemu. Setiap tahunnya di sungai ini selalu memakan korban, dua atau tiga orang selalu ada setiap tahun, ujar Ishak mengutip keterangan warga setempat.
Kata Ishak, mereka berencana ke Gunung Salak dan nantinya kembali melalui jalan aspal. Ia menceritakan, hubungan dirinya dengan si Om sudah seperti keluarga. Ishak baru bergabung tiga tahun di Track On Lhoksukon, sedangkan si Om menjadi anggota lebih dari lima tahun.
Saya sudah anggap dia keluarga, bahkan bisa dibilang, dia itu guru yang membimbing anak saya dalam hal adu nyali di motor trail, ucap Ishak.
Sehari sebelum berangkat, Ishak meminta si Om untuk memperbaiki motornya dan satu motor lainnya milik anggota Polres Aceh Utara. Kedua motor itu tidak hidup starter. Ketika itu si Om sempat mengatakan ia tidak membuka bengkel, karena matanya agak perih.
Si Om tanya motor mana yang mau diperbaiki, saya bilang trail modifikasi. Dia tanya motor KLX gimana, saya bilang kosong tidak ada yang naik. Si Om tanya lagi, apa ia boleh ikut berpetualang dengan KLX itu. Saya bilang, tentu saja boleh. Ternyata itulah petualangan kami dan si Om untuk terakhir kali, ujar pria paruh baya yang menetap di Gampong Lhok Iboh, Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara itu.[]






