LHOKSUKON – Nuriah, 28 tahun, gadis terbelakang mental yang dianiaya ibu tirinya hingga tewas sempat mengeluhkan nyeri di bagian dada kepada ayahnya, Sabtu, 2 April 2016. Sebelum menghembuskan nafas terakhir korban sempat dievakuasi ke rumah adiknya yang juga berada di gampong setempat.
Hal itu dikatakan Kapolres Aceh Utara AKBP Achmadi melalui Kapolsek Cot Girek Ipda Amiruddin saat ditemui portalsatu.com di ruang kerjanya. Kepada suaminya, pelaku mengaku memukul korban karena anaknya keras kepala.
“Kemarin (Jumat) pukul 09.00 WIB, korban menuju ke kamar mandi yang berada di belakang rumahnya untuk buang air kecil. Ia juga hendak mencuci kelambu sambil memegang sebuah ember berisi air. Tiba-tiba pelaku datang dan langsung memukul korban dengan sepotong kayu di bagian punggung, tangan dan tulang rusuk kiri hingga korban menjerit kesakitan,” ungkap Kapolsek Amiruddin.
Mendengar anaknya menjerit, lanjut Amiruddin, ayah kandung korban, Abdullah, langsung ke luar dari dalam rumah. Ia melihat anaknya dalam posisi terduduk di kamar mandi. Lalu sang ayah membawa anaknya ke dalam kamar. Saat ditanyakan alasan istrinya memukul korban, pelaku menjawab korban keras kepala.
“Pukul 12.00 WIB, ayah korban berangkat ke masjid untuk salat Jumat. Sepulang dari masjid, ia melihat kondisi anaknya sudah lemas. Namun ia tidak mengambil sikap atau tindakan apapun,” ujar Amiruddin.
Keesokan (Sabtu) pukul 12.00 WIB tadi, kata Amiruddin, ayah korban menanyakan kepada anaknya bagian tubuh mana yang sakit. Dijawab korban, punggung, tangan, rusuk dan nyeri di dada.
“Pukul 15.30 WIB tadi, ayahnya meminta Sekdes untuk datang ke rumahnya. Ia pun menceritakan bahwa korban telah dipukul ibu tirinya. Lalu Sekdes berinisiatif membawa korban ke rumah adiknya, Mahdi, 27 tahun, yang juga berada di desa yang sama. Selang beberapa menit kemudian korban menghembuskan nafas terakhir di rumah adiknya,” ujar Amiruddin.
Sementara itu, Sekdes Gampong Beurandang Dayah, Abdullah mengatakan, ia didatangi ayah korban pukul 15.30 WIB diminta untuk datang ke rumah. Ayah korban merupakan Teungku Imum di desa tersebut.
“Saat ayahnya menceritakan korban telah dipukul ibu tirinya kemarin (Jumat), saya mempertanyakan mengapa baru dikabarkan hari ini. Ayahnya cuma menjawab, 'hom kakeuh meunan'. Setelah melihat kondisi korban yang merintih kesakitan, saya membawanya ke rumah Mahdi, adik korban. Rencananya ayah korban akan mencarikan tukang urut karena diperkirakan tulang rusuknya patah,” kata Sekdes.
Selang 10 menit berada di rumah adiknya, sebagian warga berujar, 'Nyoe sang ka laen'. Lalu, korban meninggal dunia pukul 16.00 WIB tadi.
“Setelah korban meninggal, saya langsung kembali ke rumah sebelumnya dan mengamankan pelaku. Ia saya bawa ke rumah saya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya juga minta empat pemuda desa untuk menjaga ibu tiri korban agar jangan ada keluarga korban yang datang mendekat, mengingat situasi sedang panas. Kemudian saya hubungi pihak Polsek Cot Girek,” katanya.
Menurut Sekdes, pelaku merupakan istri ketiga ayah korban. Ibu korban atau istri pertama Abdullah telah meninggal dunia, sedangkan istri kedua cerai.
“Dalam keseharian pelaku bersikap baik, bahkan ia juga kuat agamanya. Korban anak kedua dari lima bersaudara,” ujar Sekdes.
Mahdi, 27 tahun, adik korban sangat terpukul dengan kepergian kakaknya dengan cara tidak wajar. Ia tidak terima dengan perlakuan ibu tirinya. Untuk itu ia meminta pihak kepolisian memberikan hukuman yanh setimpal terhadap pelaku.
“Hana kusangka mak ui lon ipoh kak sampo meuninggai. Cuma kak nyang tinggai sajan ayah, kamoe meupisah,” ucapnya saat hendak membawa pulang jasad kakaknya dari Puskesmas Cot Girek ke rumah duka pukul 20.00 WIB.
Diberitakan sebelumnya, Nuriah, 28 tahun, warga Dusun Alue Geumata, Gampong Beurandang Dayah, Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara meninggal dunia setelah dianiaya oleh ibu tirinya, Sabtu, 2 April 2016, sekitar pukul 16.15 WIB. (Baca: Dianiaya Ibu Tiri, Gadis Terbelakang Mental Tewas di Aceh Utara)[]






