Kamis, Juli 25, 2024

Capella Honda Gandeng Jurnalis...

BANDA ACEH - Dalam rangka kampanye Sinergi Bagi Negeri, PT Astra Honda Motor...

Kejari Gayo Lues Eksekusi...

BLANGKEJEREN - Kejaksaan Negeri Kabupaten Gayo Lues kembali mengeksekusi uqubat cambuk terhadap delapan...

Pj Bupati Gayo Lues...

 BLANGKEJEREN - Askab PSSI Kabupaten Gayo Lues mulai mengelar pertandingan sepak bola Antar...

Bank Indonesia Aceh Ajarkan...

BANDA ACEH - Bank Indonesia Provinsi Aceh, melaksanakan kegiatan Kick Off serentak implementasi...
BerandaBerita AcehYARA Minta Polisi...

YARA Minta Polisi Transparan Usut Kasus Penganiayaan di Syamtalira Bayu

ACEH UTARA – Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) mendesak kepolisian serius menangani kasus dugaan penganiyaan warga Gampong Teungoh, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara, Ismail (73). Korban diduga dianiaya pelaku berinisial S (41), warga Gampong Glong, Syamtalira Bayu, di Gampong Glong, Jumat, 7 Juni 2024. Setelah kejadian itu, Ismail meninggal dunia.

Terkait kasus tersebut, anak kandung korban, Fauzari, memberi kuasa kepada YARA Perwakilan Aceh Utara dan YARA Perwakilan Lhokseumawe untuk pendampingan hukum. Penandatanganan surat kuasa itu dilakukan, Ahad, 23 Juni 2024.

“Kami mendesak Kapolres (Lhokseumawe) untuk serius menangani perkara dugaan penganiyaan tersebut, hingga menyebabkan korban warga Kecamatan Meurah Mulia meninggal dunia beberapa waktu lalu di Kecamatan Syamtalira Bayu,” kata Ketua YARA Perwakilan Aceh Utara, Iskandar PB, didampingi Ketua YARA Perwakilan Lhokseumawe, Ibnu Sina, Selasa, 25 Juni 2024.

Informasi diperoleh YARA, sampai saat ini terduga pelaku diamankan di Polsek Syamtalira Bayu, tapi belum ditetapkan sebagai tersangka, dan perkara tersebut belum dilimpahkan ke Polres Lhokseumawe.

“Apalagi ada perbedaan mengenai keterangan awal antara keluarga korban dan Kapolsek Syamtalira Bayu (yang disampaikan kepada awak media), terkait posisi pemukulan terhadap korban yang dilakukan pelaku. Menurut pengakuan Fauzari (anak kandung korban), ayahnya dipukul di bagian leher samping sebelah kiri menggunakan tangan satu kali. Tetapi, keterangan Kapolsek bahwa pelaku menampar korban di bagian mulut. Makanya kita melihat kasus ini ada yang janggal,” ungkap Iskandar.

Menurut Iskandar, sebelumnya sempat beredar bahwa ada laporan awal dari jajaran Polsek Syamtalira Bayu, terduga pelaku menampar satu kali terhadap korban di leher samping sebelah kiri dengan menggunakan tangan. “Yang menjadi pertanyaannya kenapa akhirnya pihak Polsek menyatakan pelaku menampar korban satu kali di bagian mulut,” ujarnya.

“Yang lebih janggal lagi, jika ini perkara penganiayaan kenapa hasil visumnya tidak muncul bekas atau tanda-tanda kekerasan sama sekali. Kita berharap kasus ini diusut dengan transparan agar keluarga korban maupun publik, juga tidak berasumsi yang tidak sewajarnya. Kami meminta Kapolres Lhokseumawe menyampaikan secara terbuka,” kata Iskandar.

Iskandar menyatakan perkara tersebut akan dikawal YARA Aceh Utara dan YARA Lhokseumawe sampai keluarga korban mendapatkan keadilan sesuai hukum berlaku.

Dikonfirmasi portalsatu.com via Whatsapp, Selasa, 25 Juni 2024, terkait status pelaku dugaan penganiayaan itu apakah telah ditetapkan sebagai tersangka dan masih diamankan di Polsek Syamtalira Bayu, Kapolres Lhokseumawe AKBP Henki Ismanto melalui Kapolsek Syamtalira Bayu Iptu Sirya Iqbal mengatakan, “Untuk kasus sudah (dilimpahkan) ke polres”.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe, Iptu Yudha Prastya, S.H., saat dikonfirmasi mengatakan kasus tersebut masih dalam proses lidik (penyelidikan). “Karena LP-nya (laporan polisi) baru limpah dari Polsek Syamtalira Bayu,” ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, anak kandung korban, Fauzari, kepada wartawan, Kamis, 13 Juni 2024, mengatakan mulanya pada Jumat (7/6), sekitar pukul 09.00 WIB, ayahnya datang ke kedai untuk minum kopi pagi di Gampong Glong. Saat itu, Ismail sempat berbincang dengan warga di lokasi tersebut membahas isu politik di Aceh. Lalu, korban dan pelaku terlibat cekcok atau adu mulut, sehingga terjadi penganiayaan.

“Setelah percekcokan, pemilik kedai menyuruh pelaku pulang, tapi yang bersangkutan tidak mau meninggalkan lokasi kejadian. Maka ayah saya bangun dari tempat duduk untuk membayar uang ngopi, hendak pulang ke rumah yang tidak jauh dari kedai (warung kopi) tersebut, diperkirakan jaraknya kurang lebih 50 meter,” kata Fauzari ditemui di rumah duka, Gampong Teungoh, Meurah Mulia.

“Tiba-tiba, pelaku menghampiri ayah saya memukul satu kali di bagian leher sebelah kiri menggunakan tangan, sehingga beliau muntah-muntah. Kemudian warga yang ada di sana membantu membawa pulang ke rumah. Sampai di rumah, tidak lama berselang, ayah saya meninggal dunia sekitar pukul 09.45 WIB pada hari kejadian,” tambah Fauzari.

Menurut Fauzari, meski ayahnya telah meninggal dunia, ketika itu sempat dibawa ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM) di Lhokseumawe menggunakan mobil ambulans Puskesmas Syamtalira Bayu untuk dilakukan visum.

“Usai keperluan di rumah sakit, selanjutkan almarhum dibawa pulang ke rumah keluarga di Gampong Glong untuk disalatkan jenazah. Setelah itu, baru kami bawa pulang ke rumah asalnya di Gampong Teungoh, Kecamatan Meurah Mulia. Tiba di sini, masyarakat juga melakukan salat fardu kifayah untuk kemudian dikebumikan di gampong,” ungkap Fauzari.

Fauzari menyebut pihak keluarga sudah melaporkan kejadian itu ke Polsek Syamtalira Bayu. Informasi dia peroleh, S, pelaku penganiayaan tersebut sudah diamankan pihak Polsek Syamtalira Bayu. “Intinya, kami selaku keluarga ingin meminta keadilan untuk diproses pelaku sesuai hukum berlaku”.

Kapolsek Syamtalira Bayu, Iptu Sirya Iqbal, dikonfirmasi portalsatu.com, Kamis (13/6), membenarkan adanya kasus dugaan penganiayaan tersebut. Penanganan kasus tersebut sudah dilimpah ke Polres Lhokseumawe, tapi pelaku sementara diamankan di Polsek Syamtalira Bayu.

“Sebelumnya kami sudah menerima laporan yang dilaporkan anak korban (Fauzari). Saat itu ketika kami membawa (korban) ke rumah sakit (RSUCM) bahwa berdasarkan keterangan dokter untuk hasil visum tidak muncul adanya tanda-tanda kekerasan. Sedangkan peristiwa dugaan tindak pidana itu ada kejadiannya, memang benar pelaku menampar korban di bagian mulut sesuai keterangan saksi dan pelaku,” ujar Sirya Iqbal.

Menurut Sirya Iqbal, tidak ada saksi yang melihat korban dipukul di bagian leher, dan tidak ada keterangan seperti itu. “Tapi, korban hanya ditampar di bagian mulut oleh pelaku. Maka kita perlu meminta keterangan lebih lanjut dari pelapor, dari siapa mendapat informasi korban dipukul di leher. Sedangkan sejumlah saksi telah diperiksa, tidak ada yang menyampaikan (pemukulan) pada bagian leher”.

“Intinya, kami kerja sesuai prosedur. Saat ini kasus ini kita limpahkan ke Polres Lhokseumawe. Status pelaku saat ini kami amankan di Polsek, bukan penahanan dan belum tersangka karena masih perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Yang jelas korban bukan meninggal di TKP (Tempat Kejadian Perkara),” kata Sirya Iqbal.[]

Baca juga: