BANDA ACEH – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Wahyudin, mengatakan ekonomi Aceh kerap lemah di triwulan pertama atau awal tahun anggaran baru. Hal ini disebabkan berbagai hal, salah satunya Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA).
“Di triwulan satu umumnya ekonomi kita (Aceh) belum begitu berkembang. Hal ini disebabkan berbagai hal salah satunya adalah APBA dan pembagian Raskin atau Rastra yang belum berjalan,” kata Wahyudin kepada portalsatu.com, Senin, 17 Juli 2017.
Ia mengatakan, awal 2017 yakni Januari sampai Maret program Beras Sejahtera (Rastra) belum berjalan. Hal tersebut ternyata berpengaruh terhadap angka kemiskinan di Aceh.
Hal lain yang juga menyebabkan ekonomi Aceh melambat adalah terlambatnya realisasi APBA.
Kajian BPS Aceh menyebutkan ekonomi Aceh memang selalu lemah di awal tahun. Tak hanya di 2017, namun tahun sebelumnya juga demikian. Menurutnya ini membuktikan perekonomian Aceh masih sangat tergantung pada APBA. Ditambah lagi dunia perindustrian di Aceh yang semakin melemah.
“Dari sektor pertambangan dan industri Aceh terus menurun,” kata Wahyudin.
Wahyudin mengatakan angka tersebut akan berubah di caturwulan kedua. Ia mengatakan ekonomi Aceh biasanya akan berkembang pesat setelah caturwulan pertama.
Mengenai data lengkap terkait angka kemiskinan di Aceh, Wahyudin menyebutkan akan dirilis BPS Aceh secara resmi 1 Agustus mendatang.
Sebelumnya diberitakan, BPS menerbitkan jumlah penduduk miskin di Indonesia hingga Maret 2017. Data yang dirilis 17 Juli 2017 itu menyebutkan angka kemiskinan di Indonesia capai 27,77 juta jiwa. Dari data tersebut, Aceh menempati urutan keenam sebagai wilayah termiskin se-Indonesia.[]



