BANDA ACEH – Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Aceh selama tahun 2019 berada pada kisaran 4,39 – 4,79 persen (year on year / yoy), lebih rendah dibanding capaian tahun 2018 (4,61 persen, yoy). Pertumbuhan ekonomi tahun 2019 diperkirakan masih ditopang konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan investasi.

“Pada tahun 2019 pertumbuhan ekonomi Aceh diperkirakan tumbuh pada kisaran 4,39%-4,79% dengan kecenderungan bias ke bawah. Kondisi tersebut tidak terlepas dari kinerja ekonomi pada dua triwulan pertama tahun ini yang relatif stagnan,” tulis BI dalam Laporan Perekonomian Aceh Agustus 2019, dikutip portalsatu.com dari bi.go.id, Selasa, 17 September 2019.

Hasil kajian BI, pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan II-2019 sebesar 3,71 persen (yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,88 persen (yoy). Capaian tersebut juga tercatat lebih rendah dibanding periode sama tahun sebelumnya (5,71 persen, yoy).

“Dengan kinerja pertumbuhan ekonomi tersebut, Aceh masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional (5,05%, yoy) dan kawasan Sumatera (4,62%, yoy),” tulis BI.

Menurut BI, pada triwulan II-2019, perekonomian Aceh tercatat memiliki pangsa 4,80 persen terhadap perekonomian Sumatera. Sumbangan tersebut relatif tidak mangalami banyak perubahan dibanding periode-periode sebelumnya. Dengan proporsi tersebut, Aceh masih menjadi provinsi ketiga terkecil di Sumatera setelah Bengkulu dan Bangka Belitung. Sedangkan Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Selatan masih menjadi provinsi penyumbang paling dominan di Sumatera dengan pangsa dari ketiga provinsi tersebut hampir mencapai 60 persen dari total ekonomi Sumatera.

BI menjelaskan, ditinjau dari sisi pengeluaran, kinerja ekonomi Aceh pada triwulan laporan masih ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah yang masing-masing memberikan andil 2,04 persen, 1,59 persen, dan 0,69 persen terhadap pertumbuhan pada triwulan laporan.

Sementara itu, pada triwulan IV-2019 kinerja ekonomi diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan tersebut diperkirakan berada pada kisaran 5,52 – 5,92 persen atau lebih tinggi dibanding kinerja ekonomi triwulan III-2019 yang diperkirakan tumbuh 4,77 – 5,17 persen (yoy).

Menurut BI, adanya peningkatan kinerja ekonomi tersebut sejalan dengan proyeksi peningkatan konsumsi rumah tangga dan pemerintah daerah menjelang periode akhir tahun sebagai dampak dari peningkatan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA).

Pada triwulan IV-2019 pembangunan dari proyek-proyek tersebut diperkirakan sudah mulai terealisasi. Faktor lain yang berpengaruh terhadap akselerasi ekonomi pada triwulan IV-2019 adalah angka APBA yang meningkat 13,40 persen dari Rp15,08 triliun pada 2018 menjadi Rp17,10 triliun tahun 2019. Peningkatan daya beli dan pendapatan masyarakat didorong kenaikan Upah Minimum Provinsi Aceh 13,03 persen menjadi Rp2,9 juta/bulan diperkirakan juga menjadi faktor pendorong lain yang mengakselerasi ekonomi Aceh.

Di samping komponen konsumsi rumah tangga dan pemerintah, komponen lain yang diperkirakan akan mendorong kinerja ekonomi adalah investasi, khususnya investasi berbentuk bangunan disponsori proyek-proyek milik pemerintah. Di samping itu, adanya kelanjutan pembangunan berbagai program strategis nasional, khususnya pembangunan jalan tol sepanjang Banda Aceh hingga Sigli. Selain itu, terdapat pula program strategis nasional berupa pembangunan Waduk Keureuto Aceh Utara yang sampai saat ini dalam proses penyelesaian bagian bendungan inti.

Beberapa investasi dari pihak swasta juga diperkirakan masih akan berlanjut pada triwulan terakhir tahun ini. Sepanjang tahun 2019, jumlah tender proyek milik pemerintah tercatat sebanyak 1.373 paket kegiatan pengadaan barang/jasa dengan total nilai sekitar Rp3,5 triliun. Sementara itu, investasi dari pihak swasta pada tahun 2019 diperkirakan berasal dari pembangunan fisik berupa pendirian pabrik baru oleh perusahaan dari sektor industri pengolahan. Di samping itu, terdapat investasi bangunan baru di Banda Aceh dan Aceh Tengah yang berasal dari sektor jasa akomodasi dalam bentuk pembangunan parkside dan hotel baru.

Investasi dalam bentuk replanting juga dilaksanakan beberapa perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Investasi dalam bentuk pembangunan berbagai infrastruktur pendukung jaringan telekomunikasi swasta pun banyak dilaksanakan hingga akhir tahun 2019 dan diperkirakan akan membantu menopang perekonomian.

Dilihat dari sisi sektoral, kinerja ekonomi diperkirakan masih akan ditopang sektor pertanian, perdagangan, pertambangan, konstruksi, dan administrasi pemerintahan. Faktor pendorong peningkatan di sektor pertanian terutama berasal dari peningkatan panen raya padi dan kopi pada triwulan IV-2019. Di samping itu, mulai berakhirnya masa trek kelapa sawit serta peningkatan hasil tangkapan ikan laut juga diperkirakan akan menjadi penopang utama pertumbuhan sektor pertanian.

Dari sisi sektor pertambangan, produksi batubara di Aceh Barat dan migas kawasan Blok A di Aceh Timur masih akan menjadi penopang di tahun 2019. Peningkatan produksi komoditas gas di kawasan Blok A dan kawasan Pase yang sudah diproduksi pada tahun 2019 diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya. Dari sisi komoditas batubara, perkiraan kenaikan target produksi dari 5 juta metric ton pada tahun 2018 menjadi 9 juta metric ton pada 2019. India dan Thailand masih menjadi menjadi pasar utama ekspor batubara seiring dengan peningkatan permintaan tenaga listrik dari di kedua negara tersebut. (Selengkapnya bacaLaporan Perekonomian Provinsi Aceh Agustus 2019)[]