Bulan Zulhijah sebagai bulan ibadah tentu saja kita harus semaksimal mungkin agar dapat meraih dan tidak mengalpakan diri dengan melakukan kegiatan bernilai ibadah. Termasuk di antaranya dengan berpuasa pada hari Arafah tepatnya tanggal 9 Zulhijah yang jatuh pada hari ini, Kamis, 31 Agustus 2017. Sangat besar keutamaan dan kelebihan puasa tersebut.
Rasulullah sendiri telah menjelaskan dalam banyak sabda-Nya kelebihan dan keutamaannya. Di antaranya seperti disebutkan dalam hadits dengan bunyinya, Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah di hari Arafah (yaitu untuk orang yang berada di Arafah). Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka? [HR. Muslim no. 1348, dari Aisyah]
Sekian banyaknya keutamaan yang lainnya, dimana pada hari arafah tersebut sebagai waktu mustajabnya doa. Ini sebagaimana diungkapkan dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. [ HR. Tirmidzi no. 3585.)
Maqbul dan Istijabah Doa
Para ulama dalam menafsirkan hadis di atas menyebutkan bahwa inilah doa yang paling cepat dipenuhi atau terkabulkan pada hari Arafah. Jadi hendaklah kaum muslimin memanfaatkan waktu ini untuk banyak berdoa pada Allah. Doa ketika ini adalah doa yang mustajab karena dilakukan pada waktu yang utama. (Kitab Tuhfatul Ahwadziy, Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarakfuri Abul Ala, 8: 482).
Dihapus Segala Dosa
Mereka yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arafah yaitu pada tanggal 9 Zulhijah. Puasa yang dikerjakan pada hari Arafah dapat menghapuskan segala dosa. Hal ini berdasarkan hadit Abu Qatadah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Puasa Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.[HR. Muslim no. 1162, dari Abu Qatadah]
Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arafah lebih utama daripada puasa Asyura. Di antara alasannya, puasa Asyura berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arafah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. (Kitab Fathul Bari, 6/286]
Hendaknya kita tidak mengalpakan puasa Arafah, disebabkan di antara keutamaan puasa Arafah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat. (Kitab Syarh Muslim, An Nawawi, 4/179).
Puasa Aarfah pada tanggal 9 Zulhijah disunahkan bagi selain orang yang sedang berhaji dan musafir. Bagi orang yang sedang berhaji disunahkan tidak berpuasa pada hari Arafah. Ini berdasarkan hadis dari Ibnu Abbas, beliau berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak berpuasa ketika di Arafah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya. [HR. Tirmidzi no. 750.)
Sementara itu diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau ditanya mengenai puasa hari Arafah di Arafah. Beliau mengatakan, Aku pernah berhaji bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan beliau tidak menunaikan puasa pada hari Arafah. Aku pun pernah berhaji bersama Abu Bakr, beliau pun tidak berpuasa ketika itu. Begitu pula dengan Utsman, beliau tidak berpuasa ketika itu. Aku pun tidak mengerjakan puasa Arafah ketika itu. Aku pun tidak memerintahkan orang lain untuk melakukannya. Aku pun tidak melarang jika ada yang melakukannya. ( HR. Tirmidzi no. 751)
Beranjak dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan sangat besar keutamaan puasa Arafah dan hukumnya disunahkan. Bagi orang yang sedang berhaji dan saat itu berada di Arafah adalah tidak berpuasa ketika hari Arafah dan disunatkan berpuasa kepada mereka yang tidak melakukkan wukuf di padang Arafah. (Imam Nawawi, kitab Majmu Syarah Muhazzab, VI : 428).[]




