Karya: Taufik Sentana*

Sepiring martabak telur, atau seporsinya tentulah dapat menawarkan inspirasi khas, bahkan kemewahan.

Orang orang menikmatinya di sela waktu sore, malam dan jeda perjalanan. Saat hujan atau di senja yang tipis.

Adapun inspirasinya adalah saat engkau menikmatinya, atau saat engkau menyajikannya hingga menjadi hidangan @4000, 15.000 atau 150.000.

Tak usah engkau risaukan sejarahnya, apakah ia khas India, Mesir atau Thailan. Nikmati saja sajian  detilnya dengan ragam varian sayuran tertentu disisipi saus dan acar. Kesalahan racik, ia menjadi telur dadar dan merusak kenangan seseorang tentang martabak telur.

Saat menikmatinya engkau bisa memulai dengan sendok dan garpu, disantap seperti biasa. Atau melipat dan memotongnya persegi dan disantap satu satu dengan garpu lalu lapisi dengan saus atau acar. Rasakan sensasi lemak, renyah, pedas, serta manis dan asin yang seimbang.

Sungguh, cara kita menikmati dan bersama siapa kita saat itu akan menambah kelezatan martabak telur.[]

*Terinspirasi dengan seni kuliner Aceh