Oleh Taufik Sentana*
Dalam potongan ayat Almutaffifin difirmankan : Maka dalam hal itulah hendaknya mereka saling berlomba dan bersaing, _yaitu memperoleh balasan surga yang tinggi, yang bahkan minumannyapun bersegel dengan minyak kasturi yang wangi_
Ada beberapa ayat lagi yang mendorong kita yang mukmin untuk berlomba dalam kebaikan, fastabiqul khairat. Sedangkan sebagian ayat lagi mendorong kita untuk bersegera dalam mengejar ampunan Allah dan balasan surgaNya.
Pada poin ini secara zahir syar'i kita sah saja bila beramal dengan maksud memperoleh balasan berupa kelezatan akhirat, pengampunan Allah dan surgaNya. Meskipun kita tetap membingkai semua amal itu dengan bingkai keikhlasan dan ridha dariNya.
Datangnya hidangan Ramadan di hadapan kita merupakan ladang perburuan amal yang disediakan Allah. Sedangkan itu semua hanyalah untuk kepentingan kita juga. Semua amal ibadah yang kita buat setidaknya akan menghapus dosa yang lalu, memudahkan kita beribadah di bulan selanjutnya, dijanjikan dengan rahmatNya dan balasan yang berlipat lipat. Artinya, balasan amal yang berlipat tadi menjadi “pengganti” kekurangan amal di bulan yang lain.
Pada bulan ini, amalan dan ibadah yang diburu itu tidak hanya berupa menyempurnakan puasa kita. Tapi juga memelihara amalan lain yang dianjurkan, terutama shalat sunnah, membaca Alquran, bersedekah, memberi makan orang miskin dan beristighfar sepanjang sahur.
Adapun puncak dari bulan ini adalah adanya janji pahala seribu bulan bagi yang dihadiahi malam qadar olehNya.[]
*Ikatan Dai Indonesia. Kab.Aceh Barat.



