Oleh Taufik Sentana*
Sudah lazim kita ketahui bahwa seruan berpuasa pada bulan Ramadan dikhususkan bagi kaum mukminin. Yaitu golongan muslim yang telah masuk iman ke dalam hati mereka. Refleksi iman yang terbesar adalah keyakinan kepada Allah dan hal gaib lainnya.
Sehingga motif utama dalam ibadah puasa adalah dorongan iman yang ditampakkan dengan bentuk ketaatan berupa menahan diri dari makan-minum dan hal lain yang membatalkan, serta menghiasi diri dengan memperbanyak amal dan ibadah. Kiranya dorongan ini diharapkan terus menguat hingga tampak dan membekas pula pada bulan selanjutnya.
Bila dorongan iman ini terus berwujud maka yang menjadi buahnya adalah takwa. Yaitu serangkaian sikap yang mengindikasikan ketaatan lahir dan batin lewat ragam amal-ibadah serta aspek kehidupan secara utuh,
Adapun saripati dari buah ketakwaan diri ini adalah adanya “furqan” yang terinstal dalam karakter si individu muslim. Sikap furqan itu muncul secara automatis ketika ada dorongan yang buruk, sehingga ia bisa menolaknya dan menekan keburukan tersebut. Disini Furqan sebagai kemampuan seseorang dalam membedakan antara hak dan batil atau antara baik dan buruk menurut ketentuan ajaran Islam.
Kesemua urutan di atas, dari iman ke takwa lalu ke furqan merupakan bagian dari urutan ayat Alquran yang berkaitan tentang perintah puasa dan keutamaan Ramadan yang di dalamnya Alquran diturunkan.[]
*Ikatan Dai Indonesia Aceh Barat



