Oleh Taufik Sentana*
Orang modern dalam forum ini kita definisikan sebagai individu yang terlibat dan berjibaku dalam dinamika kemajuan materi, teknologi dan industri. Dalam definisi ini orang modern adalah orang yang sibuk mengisi waktunya dan membangun hidupnya melalui ukuran materialisme, entah sebagai bos atau pekerja biasa, penuh persaingan dan individualis.
Hingga pada titik tertentu, orang modern akan merasa asing sendiri dengan capaian capaiannya, atau tertekan dengan ketertinggalannya. Bahkan “peradaban” modernpun akan terasing dari kemurnian fitrahnya. Hal itu karena pijakannya hanyalah keinginan kosong dan kepentingan sementara.
Adapun puasa, dalam persepsi orang modern yang menuhankan “materi dan teknologi”, puasa itu menjadi jalan pintas spiritualitas atau trend mistisme dan gaya hidup tertentu.Bahkan mungkin puasa bisa menjadi omong kosong.
Padahal puasa telah menjadi ibadah rahasia dari agama samawi (sejatinya hanya Islam yang melanjutkan tradisi langit ini). Yang dengannya seorang hamba yang mukmin membangun kembali struktur jiwanya yang rapuh oleh “kesibukan zaman yang terus maju”.
Dengan puasa ia dapat menenteramkan hasrat materialis yang disimbolkan makanan serta kesengan lainnya, untuk kemudian mengisi jiwa dengan tabiat ilahiah dan para malaikat yang tak berhajat pada makan dan minum. Dan itu bertolak dari keyakinan bahwa ujung perjalanan ini adalah keabadian yang tak cukup dengan sikap “materialisme”: Ada hal dan keinginan keinginan yang mesti ditahan serta dikendalikan agar tak mengotori jiwa.[]
*Ikatan Dai Indonesia.Kab.Aceh Barat



