Oleh Taufik Sentana*

Rabbani adalah buah terbaik dari takwa dan ihsan. Rabbani merupakan tipekal hamba yang sangat lurus, taat, sabar dan cinta yang mendalam secara personal atau sosial.

Lewat ibadah puasa Ramadan, seorang Rabbani dapat membangun kedekatan spiritual pada Rabb-nya. Sedangkan amalan di sepanjang Ramadan menjadi praktik ketaatan, kesabaran dan kepedulian. Baik yang dilakukan pada malam hari atau sepanjang pagi dan siang.

Karakter hamba Rabbani telah menunaikan seluruh kewajiban dan telah menghiasi dirinya dengan sifat wara', ridha dan tetap bersikap kritis , serta ber-amar makruf dan mencegah mungkar dengan segenap kemampuannya.

Ali bin Abi Thalib RA mendefinisikan rabbani sebagai watak yang memberikan santapan rohani bagi manusia dengan ilmu (hikmah) dan mendidik mereka atas dasar ilmu. Sementara Ibnu Abbas RA dan Ibnu Zubair mengatakan, “rabbaniyun adalah orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya.” (Kitab Zaadul Masir fi Ilmi at-Tafsir, karya Ibnul Jauzi; 1/298).

Seorang yang Rabbani hanya terus memberi, mengabdi, berkhidmat dan meluruskan niatnya pada kepentingan ilahiyah semata, kepentingan tinggi dan abadi.

Adapun ibadah puasa ini, seakan melatihnya untuk “menahan” dan “menggenggam” dunia untuk kepentingan akhiratnya kelak.[]

*yang selalu Faqir akan BimbinganNya.
Bergiat di Ikatan Dai Indonesia