Oleh Taufik Sentana*

Bulan Ramadan sejatinya mengetuk hati kita untuk mendekat pada  Rabb. Ramadan menjadi pintu luas bagi setiap amalan dan ibadah yang nilainya berlipat serta mendorong kita untuk melatih diri dalam ketataan lewat medium puasa.

Dalam puasa, hakikatnya bukan semata membutuhkan ketahanan fisik.Tapi juga membutuhkan kekuatan hati, kehati-hatian, rasa pasrah, ikhlas dan kerahasiaan. Sebagai bulan latihan dan riyadah, maka selain dengan berpuasa, seorang muslim saat menjalankan ibadah ini sangat memperhatikan “zikrullah”, baik lisan ataupun tindakan.

Artinya seorang yang berpuasa hendaklah selalu hati dan tindakannya mengarah pada ketataatan agar sempurna amalan puasanya. Adapun kelalaian hatinya dalam mengingat Allah akan menjadi “hijab” bagi dirinya dan Rahmat Allah. Untuk itu kita dapat menandai apakah hati kita masih layak di “mata Allah” atau tidak.

 Setidaknya ada tiga tanda yang disebutkan dalam kitab Risalah Alqushairiyah yang dinukil oleh Ust Abd.Somad. Yaitu, pertama, saat hati kita masih merasakan kelezatan dalam salat serta keresahan saat meninggalkannya. Kedua, secara sembunyi, hati dan lisan kita masih ringan untuk menyebut nama Allah secara kontinyu atau pada aktivitas tertentu sepanjang hari. Ketiga, kita masih mudah merasakan ketentaraman dengan mendengarkan dan membaca Alquran.

Bila dengan tiga indikasi di atas, hati kita merasa ASING, maka sesungguhnya Allah telah  menjauhkan pandangan-Nya dari kita. Semoga kita terhindar dari hal tersebut.[]

*Ikatan Dai Indonesia Aceh Barat.