Oleh Taufik Sentana*
Keinsyafan sama halnya dengan kesadaran. Tapi insyaf lebih teknis pada rasa mengasihani diri agar terhindar dari yang merusaknya. Sebagian besar kesenangan dan kelezatan berpotensi merusak, bila ia berlebih dan mendominasi. Apalagi bila kesenagan itu hanya berlandaskan pada kebendaaan, hiburan dan gurauan semata.
Maka kehadiran Ramadan dan janji keberkahan seribu bulan di dalamnya mestilah menjadi titik tolak kita.Dalam makna bahwa Ramadan sebagai sebaik-baiknya waktu yang Allah Berikan untuk perbaikan dan kelanjutan hidup kita.
Semua rangkaian amal dalam Ramadan, dari sahur, puasa, qiyamullail, tilawah, zikir, berbagi, dan menahan diri serta lainnya memiliki ruang keinsyafan pada diri kita. Diantaranya kita menginsyafi bahwa sejatinya kita adalah hanyalah hamba dan butuh pengabdian pada yang Disembah.
Puasa dengan segala ketentuannya menjadi media hubung antarkita dan Rabb, ditambah lagi amal ketaatan lainnya. Ini mengindikasikan bahwa kita adalah makhluk spiritual dengan lapisan kompleksitas hidup (berbekal akal dan potensi kreatif) sebagai manusia dan khalifah di bumi.
Di samping keinsyafan spiritualitas tadi, Ramadan juga menunjukkan kepada kita tentang keseimbangan harmoni dalam tatanan sisial. Terutama pada komitmen menyantuni yang lemah, memberikan makan yang miskin dan mensucikan harta. Yang paling puncak dari itu, adalah dorongan keinsyafan untuk kembali ke hadrat Ilahi. Dorongan ini berupa rasa dalam kefitrian yang menjadi kekhasan pasca Ramadan. Rasa “kembali” ini juga dinampakkan lewat ramai dan gembiranya kita menghadiri pertemuan shalat id, ia bagai gambaran betapa rindunya jiwa ini untuk kembali kepadaNya dalam keadaan terbaik setelah melewati tahapan “peribadatan” yang Ia tetapkan.[]
*Ikatan Dai Indonesia Aceh Barat.



