BANDA ACEH –  Bukan Aceh yang miskin, tapi rakyat Aceh yang miskin. Itulah tanggapan Ismail Von Sabi, aktivis sosial asal Pidie. “Pemberantasan kemiskinan hanya jadi jargon, implementasinya ciletcilet,” tegas Koordinator Sahabat Duafa Pidie ini, 19 Januari 2019.

Ismail mengaku prihatin dengan kondisi ini. Sepanjang pengetahuannya, tidak ada titik fokus pemerintah di Aceh untuk benar-benar masuk ke ranah real pemberatasan kemiskinan.

“Program-program anggaran cuma berorientasi proyek yang mengatasnamakan rakyat, terutama alasan pengentasan kemiskinan,” kata pekerja sosial ini.

Pria dengan segudang aktivitas sosial ini heran dengan pola ini. Menurutnya, database kemiskinan tidak valid. Bukan hanya soal jumlah orang miskin, tapi data yang lebih spesifik. “Misalnya pekerjaan, geografis dan tingkat pendidikan. Jangan seperti selama ini, bibit sapi juga dibagi ke masyarakat pesisir,” kritik Ismail.

Sebagai pekerja sosial, ia melihat bahwa pemerintah di semua tingkatan belum serius dengan pengentasan kemiskinan. Ada bantuan tanpa pengetahuan dan pendampingan. Jadinya bantuan itu mubazir atau bahkan mengajarkan rakyat berbohong.

“Bukan besar bantuan yang menyebabkan mereka sukses, tapi pendampingan dan mengubah pola pikir,” jelas aktivis Pidie Mengajar ini.

Menurut dia, yang amat lebih penting bila benar ingin mengentaskan kemiskinan maka aparatur wajib ikhlas. “Nurani harus di depan. Semua yang terlibat dalam program pengentasan kemiskinan harus bekerja dengan nurani, bahwa orang miskin itu adalah keluarganya,” tandas Ismail.[]