Tanpa terasa bulan Ramadan telah berlalu dan disambut oleh hari raya idul fitri 1 Syawal 1438 H. Sebulan penuh kita berada di Universitas Ramadan dengan harapan alumni UNIRA (Universitas Ramadan) mampu melahirkan sosok bertitel muttaqien. Hendaknya nilai-nilai yang didapatkan di balik gelar muttaqien juga mampu direalisasikan pasca Ramadan.
Salah satu di antara buktinya, mampu istiqamah dalam ibadah baik di bulan Ramadan hingga pasca bulan tersebut. Target peningkatan amal shaleh adalah istiqamah (kesinambungan) dalam beribadah. Baik selama Ramadan maupun di luar bulan Ramadan. Hal ini menekankan bahwa ibadah itu bukan hanya pada bulan Ramadan saja. Kita tidak ingin menjadi mukmin sejati hanya pada saat bulan Ramadan tiba saja.
Dalam pemahaan kita tuntutan iman dan takwa merupakan sepanjang hayat. Namun dengan hadirnya Ramadan sebagai sayyidul syahri (penghulu bulan) menjadi momentum terbaik untuk meningkatkan pembendaharaan amal saleh, yang disertai dengan berbagai kemuliaanyang dimilikinya.
Istiqamah itu sangat penting dalam ibadah dan harus diimplementasikan di segala penjuru nilai ibadah. Termasuk beragam kebaikan yang telah ditempuh di bulan Ramadhan dan dapat dipertahankan serta diteruskan pasca Ramadan.
Salah satu bukti kita sukses melewati Ramadan adalah dengan tetap istiqamah beribadah setelahnya. Dalam hal ini para ulama mengatakan, Sesunguhnya diantara alamat diterimanya kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.
Setelah sebulan penuh kita bersungguh-sungguh dalam ibadah di bulan Ramadan, kita ikuti dan kita jaga ibadah kita di bulan-bulan selanjutnya. Hendaknya kita berusaha istiqamah dalam ibadah. Amalan yang sedikit tetapi istiqamah itu lebih baik dari pada banyak tetapi hanya sesaat. Rasulullah Saw bersabda, Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Subhanahu wa taala adalah amal yang paling terus-menerus dikerjakan meskipun sedikit. (HR Bukhari dan Muslim)
Mari kita isi seluruh hidup kita dengan ibadah kepada Allah, beristiqamah dan terus berkontribusi dari satu kebaikan kepada kebaikan yang lain. Kita bertaqwa kepada Allah kapan pun dan di mana pun kita berada. Jangan sampai kalau di bulan Ramadan kita menjadi seorang yang begitu dekat dengan ketaqwaan, tetapi di luar Ramadan malah semakin jauh darinya.
Rasulullah bersabda, Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa ?dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq ?yang baik. (HR. Tirmidzi) ?
Namun di antara fenomena yang kerap terjadi dalam masyarakat dan biasanya di saat Ramadan tiba. Sosok bulan suci Ramadan itu di artikan sekadar musim ibadah tanpa mendalami esensinya. Ramadan dipandang sekadar formalitas tanpa eksistensinya. Bahkan Ramadan dirasakan sebagai beban spritual dan beban ritual bukan lahir dari sebuah kecintaan subtasnsial yang mampu mengorbitkan ketaatan dan ketakwaan. Walhasil berimplikasi kepada minimnya pembedaharaan dan produktvfitas amal ibadah seorang hamba di bulan Ramadan.
Beranjak dari itu, marilah kita berusaha semaksimal mungkin diiringi doa untuk selalu istiqamah dalam beribadah serta tidak membohongi diri dengan giat dan tekun beribadah dan introspeksi diri hanya di Ramadan saja. Sedangkan sesudahnya ibadah hanya lipstick saja dan semoga awal Syawal kita di berkahi. Amiin.[]




